Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Love. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2012

Buterflies in My Tummy




I have butterflies flying around inside my tummy when I'm with you 

I hear bell-chimes ringing blown by wind of spring when I'm with you
Oh, this tingling feeling makes me wanna jump makes me wanna shout across the room 
Oh, this feeling of longing but damn, it's so blinding, I just can't tell if I feel happy or sad
I hear blue birds singing up around the tree when I'm with you
I see rainbows appearing everywhere I go when I'm with you
Oh, this tingling feeling makes me wanna sigh makes me wanna fly across the moon 
Oh, this feeling of longing but damn, it's so blinding, I just can't tell if I feel happy or sad

I have butterflies flying around inside my tummy when i'm with you

Mocca - Buterflies in My Tummy


Senin, 28 November 2011

Nevermore

When the tree grows higher
The more stars could be reached
The more sun could be embarrassed

but,

The more winds will flows
The more obstacles will be appear
but it will no more
if we be more hand-hold
Together.

M.A


Rabu, 07 September 2011

Kepada Bulan


Hei, Tuan Bulan ..
Kemana saja? Kau tahu aku masih merindukan cahayamu.

Meskipun aku selalu merindukanmu, aku tahu aku harus berhenti.

Ada rasa rindu di sini yang tidak kau mengerti meski kuucapkan berkali-kali.
Ada rasa sepi disini yang tidak  kau tau ketika kau sibuk berkelana menerangi yang lain.
Setelah mengetahui bahwa kesempatan untuk mencapaimu kebetulan tidak ada,
 
Aku berusaha untuk tidak menunggu lagi.

Aku bukan astronot. ; (



Minggu, 04 September 2011

Tersesat?

Mungkin, saat ini, kau berjalan di tengah belukar tajam, dikasihani sinar rembulan, yang ingin engkau sampai secepatnya ke rumah. sampai dimanakah engkau berjalan sekarang, wahai engkau yang mencari jalan pulang. engkau, yang sengaja menyesatkan diri dan kemudian berpusing untuk kembali. kembali ke rumah. rumahmu yang nyaman. rumahmu yang kini merasakan sepi, rumahmu yang kini selalu mengantarkan rindu melalui angin-angin malam, menuju kamu. kamu yang tersesat. dan selalu ada rindu. namun sayangnya kau tidak mengerti arti sepi.
waktu, selalu mengajariku menunggu. di detiknya yang merangkak pelan, selalu terselip sebuah harapan. harapan tentang masa depan, harapan tentang kehidupan kita. tapi ketukan detak detik waktu ini semakin menjelaskan sepi. aku semakin rindu.
dan kini sampai dimanakah engkau berjalan? apakah kau tersesat semakin jauh, atau kau sengaja menjauh, atau kau sengaja berputar-putar di satu tempat, untuk sengaja membiarkan waktu, kembali mengajariku menunggu?

Untuk kesekian kali aku memulai pagi. dan masih menunggumu kembali.

Sabtu, 20 Agustus 2011

MA MOP

MA
SUDAHKAH?

Sudahkah kau dengar sepucuk rindu yang kutitip pada angin malam barusan?


DIA?
Dia mengetuk helaian atapmu, bingkaian jendelamu dan dedaunan pintumu dengan lembut;
(Tuk.. Tuk.. Tuk..)

BERHARAP?
berharap kau kan membuka seruas ruang 'tuk dia berteduh, dari kejaran awan yang mulai sudah tak ramah padanya..



MOP
LUPAKAH?
 iya, kamu selalu lupa. sudah kubilang berapa kali, sepucuk rindumu itu bahkan tak perlu mengetuk. terobos masuk pun tak apa. 
Agar rindumu segera tau, didalam juga sudah ada rinduku.
Rinduku ini sampai menggigil, asal kau tahu.

Minggu, 22 Mei 2011

hari ini.

ia. saya menunggu hari ini. lamaaa sekali. hari pertemuan kita. aku senang. kamu. sudah terlalu lama bersama mereka. saya ingin hari ini untuk saya saja. ia saya egois terus kenapa. saya tidak mengekang saya tidak pemaksa saya tidak suka protes saya tidak banyak meminta. saya mengerti saya tau saya paham. semuanya. apapun yang kamu bilang. kamu kuliah kamu latihan kamu sibuk kamu ini kamu itu. saya terima. bukankah saya ini baik. bukankah saya ini pengertian.

ia. saya selalu menunggu hari ini. lamaaa sekali. hari pertemuan kita. kamu sudah terlalu lama dengan mereka. saya ingin hari ini untuk saya saja. ia saya egois terus kenapa. cuma kali ini. saya mengekang. cuma kali ini. saya protes. cuma kali ini. saya meminta. dan kamu tidak mengerti kamu tidak tau kamu tidak paham.

ia. saya sudah menunggu hari ini. lamaaa sekali.

Selasa, 15 Maret 2011

Tidak Putus-Putus

Katanya, aku telah mempunyai hatinya untuk menumpahkan rasa sayangku kepada pemilik hati tersebut. Aku telah melimpahkan rasa yang melimpah-limpah padanya. Aku berikan saja padanya. Aku telah beberapa kali hidup dalam teori bahwa aku harus mencintai dengan ikhlas, dalam arti kata, tidak apa jika ia tidak membalas rasa yang aku berikan. Tapi kenyataannya, sungguh menyedihkan jika keadaannya menunjukkan bahwa kita tidak mendapatkan apa-apa. Katanya, kalau hal tersebut terjadi pada kita, berarti kita tidak tulus. Benarkah?
Dalam kenyataannya pun aku mampu menahan rasa menyedihkan tersebut. Berarti aku tulus kepada kamu. Ya kan?

Maaf karena aku berkata begini, aku merasa, dalam kehidupan antara aku dan kau, hanya aku yang berusaha. Hanya aku yang selalu mengalirkan rasa itu, tak putus-putus, tak mempan dihambat batu besar pun. Aku pun tidak mencoba-coba untuk membelokkannya ke lain arus, walaupun hanya sekedar “menikmati” dan “bersenang-senang” dengan arus lain. Sedangkan kau mungkin hanya perahu, yang mengikuti alur yang aku pilih, dan suatu waktu dapat berpindah sesuka hatimu, pada arus yang lebih menarik, menurut kamu. Lalu ketika arus itu tiba-tiba membosankan, kamu kembali pada arusku, yang senantiasa deras mengalir menuju tujuan perhubungan kita.

Sejak aku telah menyetujui perhubungan kita, dalam hatipun aku telah berjanji dan berikrar kepadamu, bahwa aku, dalam keadaan apapun, rasaku akan tetap sama. Apa kau juga? Aku ini.., bukanlah arus persinggahannmu untuk menyeberang ke arus yang lebih seru, kan?

Kamu, perahu yang mudah terpikat pada banyak arus, arusku akan begini terus padamu. Tak putus-putus.

Minggu, 06 Februari 2011

Selamat Senja :)

Kamu : Selamat senja.. :)

Saya : Selamat senja. Birunya mulai pudar, ada sedikit jingga yang malu-malu mulai muncul. Bersih. :)


Kamu : Mereka selalu bertemu di ujung barat.. sepanjang masa, sampai akhir peradaban.. damn!


Saya : Mereka berpisah di pagi hari. Menjalani realita, bernafas, bersosialisasi, menaungi Eropa, Afrika, Asia, Australia, Amerika, bahkan Antartika. Lalu mereka bertemu lagi di Barat. Bercerita sampai puas dan mereka bertukar cerita tentang kebahagiaan, sakit hati, kegagalan dan apapun yang mereka alami sehari tadi. Sampai senja tertidur manja di pundak matahari,


Kamu : Iya.. tapi kita tidak tau apa yang mereka lakukan ketika mendung bertautan menutupi gugusan indah mereka..


Saya : Tak apa kok. mendung itu hadiah dari matahari supaya setelah hujan turun, ia dapat memperlihatkan indahnya pelangi kepada senja.


Kamu : ya, mereka selalu berbagi :)

*kepada semburat jingga saat matahari turun ke peraduan. kepada bulir-bulir gerimis yang tumpah dari langit. kepada langit sore selepas hujan, kepada kamu, saya, dua orang yang bertemu ketika senja*

Selasa, 01 Februari 2011

Pernah gak merasa seperti ini?

Ketika kamu ingin sekali dianggap spesial oleh orang yang kamu sayang, kamu gak ingin terlihat jelek sama sekali. Dan karena itu, kamu menjadi takut posisimu tergantikan; dan ini mengakibatkan rasa cemburu. Rasa cemburu itu membuat kinerja dan sikapmu menurun dari yang seharusnya, dan akibatnya, dirimu gak bisa menjadi kamu yang sebenarnya. Kamu gak menjadi dirimu yang terbaik karena terlalu repot memikirkan bagaimana tetap menjadi spesial di mata orang yang kamu sayang.

Sebaliknya, masih di dalam perasaan seperti itu, kamu berpikir bahwa kasih tak bersyarat itu gak ada. Kamu mempercayai adanya kasih yang bersyarat. Orang akan menghargai dan tetap menyayangimu ketika kamu baik dan sesuai dengan jalan yang ditentukan. Ketika perfeksionisme itu pecah, rasa sayang juga pecah. Jadi, untuk mengetahui bahwa kepercayaan ini benar, kamu melakukan hal yang sengaja salah; lalu merasa 'puas' ketika kenyataan kasih tak bersyarat itu terbukti salah.

Nah, di antaranya, kamu menjalin hubungan dengan pemikiran berdasarkan kompetisi dan rasa cemburu, bukan berdasarkan tujuan hubungan itu ada. Akibatnya, hubungan benar-benar terputus, dan rasa puas akan terbukti salahnya kasih tak bersyarat itu pun muncul.

Aku sedang ada dalam posisi ini. Dan ini melelahkan. Keyakinan yang harus diubah adalah mengenai kasih yang tak bersyarat. Kupikir, kasih tak bersyarat di dalam hubungan antar manusia itu gak mungkin. Kalau Tuhan, mungkin saja. Tapi, ini mungkin karena aku tak banyak mengerti soal kasih dan macam-macamnya. Mungkin perlu lebih banyak baca buku?

Sebenarnya, kasih tak bersyarat itu ada gak sih?

Aku skeptis terhadap banyak hal yang kulihat dan dengar, karena belum pernah kualami sendiri. Apa aku salah? Apakah ini karena gelembung perfeksionisme-ku, maka aku gak mentolerir kesalahan (bahkan yang dibuat oleh diri sendiri)? Apa karena aku hanya melihat ke dalam diriku sendiri tanpa melihat ke kotak pemikiran orang lain? Apa karena aku menutup hati terhadap kemungkinan kasih tak bersyarat itu hadir di hidupku?

Apa aku sedang membenarkan keyakinan diriku sendiri (lagi)?

Seorang teman berkata, jika perfeksionisme tak sehat ini berlanjut, aku akan susah memaafkan diriku akan (bahkan) kesalahan-kesalahan terkecilku. Yah, ini benar. Aku terlalu sering mendengarkan inner-critic daripada dukungan terhadap diri sendiri. Sebaliknya, di dalam sifat perfeksionisme ini, ada kompromi-kompromi dan pembenaran diri yang tinggi terhadap kesalahan yang (telah) diprediksi oleh diri sendiri.

Aku selalu berprinsip begini. Ketika aku dihadapkan pada sebuah kolam berisi manusia yang berenang, aku harus tahu dulu kedalaman kolam, suhu air, dan risiko apa saja yang kemungkinan akan kuhadapi sebelum aku mencelup ujung jempol kakiku di air kolam tersebut.

Tapi di dalam prinsip yang sama, aku akan memastikan ketika aku masuk di dalam kolam itu, akan ada tangga untuk keluar kapan saja aku mau. Ketika aku merasa terlalu dingin, atau kolam menjadi membosankan, aku akan keluar karena rasa enggan atau alasan yang kubuat sendiri. Bahkan sebelum aku benar-benar menguasai sebuah gaya renang.

Ini terjadi bukan hanya sekali. Bukan hanya dalam satu hubungan. Bukan hanya satu kasus.

Apakah ini masalah komitmen? Apakah ini mengenai dorongan (atau tendangan)? Apakah aku terlalu lembek (atau terlalu keras) terhadap diriku sendiri? Apa yang menjadi akarnya? Apakah rasa takut? Sikap skeptis dan prediksi yang cenderung negatif? Kesenangan sementara dan rasa takut mengambil langkah lebih jauh?
Kalau aku berkata mau berubah, apakah aku akan cukup percaya bahwa ada orang yang tetap menyayangiku bahkan ketika progres perubahanku begitu lambat? Atau aku akan ditendang seperti prediksi skeptisku selama ini?

Aku terlalu banyak berpikir. Mungkin.

Yah, kalau kau mengerti, bagaimana menurutmu?

nb: Bagaimana meyakinkan diriku sendiri bahwa gak semua orang berpikir seperti aku berpikir?


*hanya sebuah catatan labil :)

Sabtu, 22 Januari 2011

Dua Dua


Aku menyukai hari yang bertanggal kamu, dua dua.
Setiap melihat kalender, yang pertama aku lihat adalah kamu, dua dua.
Dua dua.
Sembilan bulan lalu aku mulai menyukaimu, dua dua.
Dan pada bulan-bulan berikutnya, aku menantikanmu hadir di hariku, membawa dia serta, yang juga menyukai tanggal dua dua juga, untukku.
Ups. Mungkin memang banyak yang menyukaimu.
Tapi, aku berdua dia, menyukai kamu, dua dua, karena alasan yang sama.
Dua dua, aku berdua dia, akan bertemu lagi hari ini.
Hari ini, tanggal dua dua.
Sama seperti dua dua yang telah kami lewati berdua.
Hanya berdua saja, dua dua.
Tak banyak yang ingin aku pinta pada dua dua kali ini.
Cukup dua saja.
Semoga kami dapat mencintai karenaNya,
Serta, semoga akan ada lagi dua-dua berikutnya, yang tersedia untuk kami berdua.
Amin :)

Senin, 20 Desember 2010

A** S***** K***

Aku sedih…
Soalnya kamu juga..
Meskipun kamu tetap tersenyum, aku tau
Itu bukan senyummu yang biasanya..

Aku sedih liat matamu,
Aku tau itu bukan matamu yang biasa..
Meskipun matamu tetap bersinar-sinar
Dan tidak kehilangan kekuatannya untuk menambah semangatku..
Tapi itu bukan matamu yang biasa..

Aku tau pasti itu matamu yang menangis
Sampai hatimu basah dengan air mata!
Aku sedih sampai-sampai aku takut mataku pun menangis sepertimu..
Tapi kalau aku bisa merasakannya,
Aku mau kamu membagi setengah air mata itu untukku..

Aku tidak mau kamu sedih!
Aku tidak tahan sampai-sampai aku memikirkan
Cara terbaik untuk kembalikan senyum yang hanya kau miliki..
Juga matamu yang tetap membagi cahayanya
Meski hampir redup sekalipun..

Aku sayang kamu…!

Rabu, 15 Desember 2010

Swit... Swit... La..La..

tentang sepasang bola mata saya yang tidak sengaja menangkap sosok kamu
tentang hati saya yang melonjak dan memancarkan kehangatan di dalam dada saya
tentang jantung saya yang berdegup kencang waktu melihat sosok kamu
tentang aphrodite yang menancapkan panah ini tanpa perhitungan
tentang otak saya dengan ingatan fotografisnya

(labil)

Rabu, 01 Desember 2010

Punguk dan Bulan

PUNGUK:
Bulan tak kunjung bersinar malam ini, padahal punguk menanti dengan penuh harap. Entah, hari apa ini. Punguk lupa, dan ingin selalu melupakan hari ini.

BULAN:
Padahal jalan ke bulan sudah tercipta, dan akan selalu ada hanya untuk dirinya. Tapi punguk tetap lupa (atau masih belum tau?). Hari itu, punguk keasyikan di bumi, dan lupa pulang




 Rangkaian SMS si M.A & si M.O.P :D

Minggu, 21 November 2010

Figuran


Aku duduk meringkuk di salah satu kursi di kamarku yang dingin. Sebuah ruangan yang paling aku sukai semenjak aku kecil. Kursi yang aku duduki berwarna coklat tua, dengan bentuk yang sederhana. Di depanku, jendela seluas dinding yang membentang terburamkan oleh hujan yang deras.

Kamar ini tidak sepenuhnya hampa, dan itulah kenapa aku suka tempat seperti ini. Ada kursi, ada meja, ada lampu yang berusaha untuk menggantikan surya. Komik-komik dan beragam buku yang dijejer rapi. Mereka adalah figuran.

Aku figuran. Itulah aku, tapi bukan dalam kisahku. Aku kira aku figuran, dalam sebuah kisah.
Dari sini aku melihat seorang lelaki bercakap berbicara memenuhi monitor komputer. Ia berbicara tentang aku. Tentang kehidupanku, tentang umur ke dua puluh ku, dan tentang kami. Aku ingin menghampirinya, tetapi aku urungkan. Mungkin dia ingin diberikan kesempatan berbicara, padaku tanpa aku sela, pikirku.

Ada banyak masa dalam kehidupan kita yang singkat ini, ketika bunga-bunga terlihat lebih cantik dari biasanya. Ketika segala sesuatunya berjalan seperti semestinya. Ketika senyum seolah tak bisa pudar dari wajah, ketika kita bersama tentunya, dan ketika hujan turun. Aku suka hujan. Mungkin dia juga begitu.

Aku figuran. bukan dalam kisahku, tapi di kisahnya. Aku figuran yang berusaha membuat dia bahagia. Iya, aku akan berusaha. Bahagianya, bahagiaku. Akan selalu begitu :)

Masa-masa itu adalah masa yang sungguh menggembirakan. Mungkin ini yang disebut bahagia? Mungkin iya.

Seperti halnya saat ini. Aku kira ia sedang bahagia. Dan semoga ia bahagia. Lelaki itu masih saja berbicara, dan aku tetap duduk di kursi coklatku. Aku tidak bergeming, tetap memperhatikannya, dengan senyum, tentu saja.


Selasa, 07 September 2010

sapaan selamat tidur.





Hai.

Kamu tau? Aku disini, menghargai keberadaanmu. Mengakui bahwa kamu ada. Ada di suatu kotak diantara kotak-kotak lain di ruang hati. Ada salah satu kotak yang cuman kamu didalamnya. Aku berusaha, tidak akan pernah membiarkan kotak itu disentuh oleh manusia manapun, walau mausia itu hanya sekedar melirik dan melihat kedalam. Sungguh, aku menjaga diriku untuk tidak memasukkan manusia lain kedalamnya. Aku bukan tipe serakah dan keganjenan (atau bahkan sekedar penasaran), tepe-tepe sana sini mendekati manusia lain. Aku manusia yang cukup tau diri bagaimana menghargai dan membalas kasih sayang yang aku dapatkan (meskipun tak sebanyak yang kamu berikan). Cukup kamu tau bagaimana aku berusaha mengunci kotak itu rapat-rapat, menjaganya, memberinya asupan kasih sayang… Aku, menguncinya rapat-rapat ketika aku ada didekat kamu, ketika aku berada di jarak 10 meter di dekat kamu, ketika aku dan kamu dibatasi beberapa tembok, berpuluh-ratus kilometer… Aku tidak akan membiarkan orang lain mengintip kotak yang sudah jadi rumah kamu, dan kemudian membuat aku penasaran serta menariknya masuk kedalam, dan kemudian membuat aku perlahan-lahan mengacuhkan kamu dan akhirnya menggantikan kamu, Insyaallah, tidak akan. Bagiku cukup kamu.

Yah, gitu deh, cuman mau ngomong begitu aja. Selamat malam! http://www.smileycodes.info

Sabtu, 04 September 2010

KUNOGILA. Kucing Nostalgila.

Dan ternyata kucing pun tak bisa menahan gejolak cinta yang membara didadanya. 
http://www.smileycodes.info


Kucing mengeong,
Cicak merayap..
Kumbang menari..
Inikah cintaaa.. http://www.smileycodes.info
Siapakah yang membuat kucing cantik berbulu domba ini jatuh cinta? 
http://www.smileycodes.info

Jawabannya kira-kira bisa digambarkan begini:

+
+
+
+
+
+
=
TADAAAAA...


http://www.smileycodes.info   eh...

yak... ini yg benar. seorang manusia (yang tiduran, bukan yang lagi duduk -_- ) http://www.smileycodes.info
http://www.smileycodes.infoPerhatian, gambar ini diambil ketika dia lagi sesi pemotretan, bukan beneran ya!

Nah, tiap kali ngeliat dia aku jadi tersipu kayak gini


Eh.. eh.. tapi pas giliran dia ngedalang aku jadi kayak gini


http://www.smileycodes.info
Pura-pura marah ceritanya hahhahayaampun :))

Kisah kami berawal tanggal 22 April 2010 di musim gugur lalu. Bunga-bunga sakura turun menghujani kami yang dilanda asmara.
Begitulah.. Sekarang kita telah merajut asa dan impian serta menghempaskan kerikil-kerikil dalam hidup berdua (tsaah..) selama 5 bulan. Dan semoga kami mampu menghempaskan kerikil-kerikil besar yang mungkin akan datang:))http://www.smileycodes.infodan semoga kami diberikan jalan yang terbaik oleh-Nya. Amin :) http://www.smileycodes.info

Jumat, 03 September 2010

Mudah Saja




Mudah saja.
Kamu tak perlu lagi memperhatikan aku. 
Oh, maaf. Aku terlalu keGRan ya? 
Maksud aku memberikan aku perhatian. SAMA SAJA, IDIOT! 
Hm. Mungkin gini. Aku merasa kamu memberikan perhatian lebih padaku. 
GR? 
MEMANG!

Mudah saja. 
Kamu tak perlu berhubungan lagi denganku. 
Kamu menghubungi aku karena hanya aku yang mau mendengar ceritamu. 
Karena hanya aku yang setia menampung ocehanmu tentang DIA, DIA, DIA yang tidak peduli padamu. Berbeda dengan aku yang peduli hingga ke ujung helai rambutmu. 
Ke sudut ruang tatapan kosong matamu. 
Ke selusur pemikiran indahmu tentang DIA!

Mudah saja.
Katakan apa maumu. 
Pergi dan seret DIA ke khayalan indahmu, dan tinggalkan aku di sini, di dalam kotak segiempat pepat ini. 
Biar aku terkungkung perasaanku sendiri. 
Biar dia ini tau rasa! 
Biar dia mengecap bagaimana sih indahnya kesalahpahaman. 
Salah dia sendiri kenapa tidak menuruti logika ku.
Tapi,
Kau tau tidak, dia selalu tertawa bahagia ketika kau juga tertawa bercerita tentang DIA. 
Dia bahkan mampu tersenyum lebar ketika kamu tersipu malu setiap kali menyebut nama DIA. 
Dia baik ya? Mungkin polos, atau malah bodoh. haha.

Mudah saja. 
Buatkan aku mesin waktu. 
Aku putar kembali waktuku. 
Jadi, aku tak akan mengenalmu. 
Jadi dia-ku tak akan salah paham. 
Jadi, DIA tak perlu aku benci. Hingga..

Mungkin saja.
Hidup AKU dan dia-ku, KAMU, DIA, 
akan;
mudah saja.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails