Di kamar ini, beberapa wanita berkumpul, mencoba sok sok menata nasib, menjalani kelanjutan kehidupan, berjuang mengumpulkan rindu rindu yang sebenarnya sungguh tak bisa ditahan sebuah pun.
ini minggu kedua. sampai saat ini sudah 18 keping rindu yang kukumpulkan di sebuah toples dari kaca tipis yang rapuh. aku mengumpulkan setidaknya satu rindu di setiap hari. namun ada kala dimana hari hari terasa berat dan aku merindu lebih dari biasanya. Toples itu ditutup oleh sejenis selaput tipis yang gampang robek dan koyak. Tiap hari kubuka dan kututup toples itu dengan hatihati, agar nanti rinduku tetap tersimpan dalam toples, tak kabur keluar. Aku tak tau entah bagaimana nanti jika toples itu sudah penuh oleh rindu rindu dan seketika ingin membuncah keluar memecahkan kaca toples, mengoyak selaput tipisnya dan kabarnya sampai mampu mengeluarkan air dari sela sela mata.
aku menabung rindu, untuk nanti diberikan kepadanya.
aku menabung rindu, untuk nanti bisa dikeluarkan pada saatnya.
aku menabung rindu, untuk nanti bisa dinikmati bersama dengan tertawaan.
dan aku menabung rindu, sematamata karena aku wanita, yang berpurapura kuat menabung rindu, demi segala rasa yang dirasa, dan menjaga apa yang sepatutnya dijaga.
dan semoga ia mau melahap rinduku itu beserta toples kaca dan selaput tipisnya dengan rakus.
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Curhat. Tampilkan semua postingan
Senin, 01 Juni 2015
Minggu, 23 November 2014
Gloomy when it rains. Because falling is painful.
Sedih rasanya ketika mengingat seseorang yang dulu sempat dekat dengan kita, kini tiba-tiba menjauh. memang alasannya bukan karena ada masalah diantara kami, namun memang keadaan saja yang membikin semua menjadi jauh. karena jarak kita emang jauh. kenangan ketika bersama itu justru membikin tenggorokan tercekat jikalau diingat-ingat. sedih karena dulu pernah ada hal-hal indah dan bahagia yang dilakukan bersama, saling menyemangati dan menjaga. dan semuanya kini hilang. hal tersebut semakin diperparah oleh rasa kesendirian. salah sendiri menjadi introvert. rasanya sungguh bahagia bila berada disekitar orang-orang yang menganggap kita ada, dan butuh dengan kehadirian kita. rasa dibutuhkan. itu yang paling dirindukan ketika kesendirian ini datang. banyak hal-hal indah yang telah dilalui. semoga saya juga bisa menciptakan banyak kenangan indah bersama orang-orang yang akan hadir di kehidupan saya kelak. sungguh, saya tidak ingin sendirian merasa sendiri. tidak ingin ditinggali. dan saya bosan merasa kesepian.
Senin, 26 Agustus 2013
Benci untuk Mencinta
Oh betapa ku saat ini ku benci untuk mencinta. Mencintaimu.
Oh betapa ku saat ini ku cinta untuk membenci. Membencimu
Aku tak tahu apa yg terjadi antara aku dan kau.
Yang ku tahu pasti, ku benci untuk mencintaimu.
Yang ku tahu pasti, ku benci untuk mencintaimu.
-Naif
Minggu, 18 Agustus 2013
Taman Bermain
Kali ini kamu seperti anak-anak.
Kamu yang selalu suka dan tiap waktu selalu ingin naik Roller Coaster,
Mendadak teralihkan karena Hysteria tiba-tiba hadir.
Lebih seru.
Lebih memabukkan.
Dan untuk kali ini, lebih membuatmu ketagihan.
Kamu ingin turun dari Hysteria dan berlari ke Roller Coaster.
Namun Hysteria tak ingin berhenti.
Dan sehingga kamu terjebak.
Antara permainan baru yang menggoda, dengan permainan lama yang dulu selalu bermain denganmu.
Dan kamu tersadar.
Bahwa Hysteria tak berhenti, karena kau tetap memberikan koin untuknya agar terus bermain denganmu.
Bahwa Roller Coaster tetap berputar, agar kau tetap tertarik pada permainan yang biasa kamu mainkan.
Kamu yang selalu suka dan tiap waktu selalu ingin naik Roller Coaster,
Mendadak teralihkan karena Hysteria tiba-tiba hadir.
Lebih seru.
Lebih memabukkan.
Dan untuk kali ini, lebih membuatmu ketagihan.
Kamu ingin turun dari Hysteria dan berlari ke Roller Coaster.
Namun Hysteria tak ingin berhenti.
Dan sehingga kamu terjebak.
Antara permainan baru yang menggoda, dengan permainan lama yang dulu selalu bermain denganmu.
Dan kamu tersadar.
Bahwa Hysteria tak berhenti, karena kau tetap memberikan koin untuknya agar terus bermain denganmu.
Bahwa Roller Coaster tetap berputar, agar kau tetap tertarik pada permainan yang biasa kamu mainkan.
Dan pada akhirnya kau berpikir,
Untuk meninggalkan taman bermain ini saja.
And I didn't mean for this to go as far as it did
And I didn't mean to get so close
And share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back
But I know you did.
And I didn't mean to get so close
And share what we did
And I didn't mean to fall in love, but I did
And you didn't mean to love me back
But I know you did.
(Plain White T'S - Lonely September)
190813
dan kamu baru saja tersadar, kalau Hysteria tahu koinmu terbatas untuknya.
dan dia juga tahu, kamu bisa meninggalkannya dan kembali ke Roller Coaster, kapanpun kamu mau.
Dan Hystria juga tahu, kamu akan tetap pergi, walaupun ia bersedia bermain denganmu, dengan ataupun tanpa koin.
Dan setelah semua terjadi, kamu masih saja bingung mau bermain dengan siapa!
Kebayang betapa brengseknya kamu?
MAAF!! :(
tapi, kamu tersadar betapa banyak kata maaf yang terbuang percuma.
galau saja sana!
#njis, hujan pula.
190813
dan kamu baru saja tersadar, kalau Hysteria tahu koinmu terbatas untuknya.
dan dia juga tahu, kamu bisa meninggalkannya dan kembali ke Roller Coaster, kapanpun kamu mau.
Dan Hystria juga tahu, kamu akan tetap pergi, walaupun ia bersedia bermain denganmu, dengan ataupun tanpa koin.
Dan setelah semua terjadi, kamu masih saja bingung mau bermain dengan siapa!
Kebayang betapa brengseknya kamu?
MAAF!! :(
tapi, kamu tersadar betapa banyak kata maaf yang terbuang percuma.
galau saja sana!
#njis, hujan pula.
Senin, 12 Agustus 2013
Di Suatu Sore Yang Temaram
ini semua berawal dari perbincangan saya dengan rekan dan sodara seperguruan yang sama-sama bercita-cita ingin mewujudkan kampung halaman kami tercinta Cendung Gigapolis menjadi Cendung Terapolis, bang cecep. Disore hari yang temaram dimulailah percakapan yang terhubungkan lewat sebuah media metropolis mania bernama chattingan pesbuk. Marilah kita tanyakan, hal terkece apakah yang kami bicarakan pada saat chatingan..
yang benar-benar menguras emosi dan segenap air mata bercucuran layaknya air ketek yang menetes dari pori2 ketiak menembus lapisan baju?????
JAWABANNYA..
ea cerita tentang bagaimana keseharian pria kekar macho ini di kampus mengurus segala hal yang berkaitan dengan kewisudaan dia. Sebuah percakapan yang (pada awalnya) mengoyak hati bagai sembilu.. (pada awalnya, namun sehabis chat tetap meninggalkan bekas tertorehan luka yang tak mengering)
bang cecep entah niat curhat mengeluh atau mengungkapkan kebanggaan secara gak langsung, bilang "litak den puta2 kampus maurus wisuda ko heh, huf"
saya terpana melihat deretan-deretan kata yang bermunculan di setiap baris chat tersebut. namun dengan segenap tenaga dan menguras stamina, demi apapun saya mencoba berjiwa besar dan patriotis serta tetap mensupport rekan dan saudara sepertemanan-antar-nenek tersebut. dan dengan seketika di saat itu naluri feminisme keperempuan-perempuanan saya sekonyong-konyong keluar dari dalam diri memancarkan aura kembang desa.
adapun perwujudan dari naluri feminisme tersebut adalah sebuah ide yang mana menyangkut sebuah pertanyaan "aku mau lihat, fashion seperti apa sih yang akan kamu kenakan pas graduation day nantik? karya adibusana siapa yang kamu pakai?"
lalu terurailah cerita bahwa bang cecep yang santun dan qana'ah tersebut akan mengenakan kebaya transparan.
Jadi konsep kebaya itu dari bahan brokat motif bunga tanpa dikasih puring. jadi transparan aja. tema kebayanya itu yaitu PURE AND NATURAL. nah, biar elegan dan kesannya sophisticated dan agak ningrat, di ujung restleting dikasih seperangkat alat pengaman berupa kunci restleting lengkap dengan kode password dan gembok. hal ini bertujuan agar si pemakai tetap aman walaupun anonoh. adibusana ini juga mengisyaratkan dan mengusung tema "AVAILABLE TO SEE BUT NOT TO TOUCH"
namun setelah kesadaran ini kembali maka tema yang paling tepat adalah "HOW TO BECOME A HONORABLE BITCH"
ps: mohon maaf atas postingan pasca lebaran kali ini. mohon dimaklumi, dan anggaplah ini sebuah pembelajaran untuk bg ncep dan saya sendiri untuk tetap menjaga norma2 serta keagungan moral yang selama ini dijunjung, dimanapun berada, dan mengubah cara pandang yang semakin menuju ke arah ketidak-beresan terhadap mengamati sebuah objek.
Minggu, 20 Januari 2013
We Need to Talk About R.W
Pertama-tama saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang telah saya lukai secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, judul ini terinspirasi oleh judul movie yang baru saja saya tonton, We Need to Talk About Kevin. Erza Miller sungguh tampan.
Pernahkah kamu mengkloning dirimu sendiri di dunia maya? Saya pernah. Di situs jejaring sosial facebook, saya membuat sebuah akun palsu. Di akun tersebut saya memerankan seorang tokoh cowok yang saya beri nama Regi Willian. Tidak penting kenapa saya memilih nama itu karena gak penting juga, yang penting adalah mengapa saya membuat akun palsu tersebut. Bila anda mengharapkan suatu ketenangan serta kedamaian diri ketika membaca tulisan ini percayalah saya tidak pernah menjanjikannya lantas pecahkan saja monitornya bila kesal melanda anda atau mungkin silahkan curi ayam tetangga anda dan siapkan diri anda meregang nyawa karena dihajar masa. Apapun yang anda lakukan ya terserah anda sajalah asal jangan cubit pantat saya, ok!
Saya membuat image Regi Willian sebagai seorang yang to the point, jujur (dalam artian, walaupun kejujurannya itu akan menyakitkan bagi orang lain dan cenderung membuat orang benci), dan blak-blakan, baik dalam komentar atau status di akun tersebut. Di akun tersebut saya meng add beberapa orang yang sifatnya tidak saya sukai dalam kehidupan nyata. Dan di akun itulah, saya menyerang orang-orang tersebut melalui tanggapan-tanggapan terhadap apapun yang mereka tulis. Sebuah tanggapan jujur -yang tanpa babibu langsung ke permasalahan, tanpa ada muqadimah dulu agar pendapat tersebut tidak terlalu menyakitkan. saya analogikan seperti jatuhnya sebuah batu ke lantai. bukan seperti pesawat yang akan mendarat- dan memang sebuah tanggapan yang muncul murni dari otak saya. Di akun tersebut, saya bebas mengomentari apapun, dengan apapun yang ingin saya katakan. Di akun tersebut, tak ada seorang pun yang membuat saya ragu untuk berkata jujur tanpa takut menyakiti hati orang tersebut. Selagi saya bersembunyi di balik nama Regi Willian, saya merasa aman.
Selang beberapa bulan akun tersebut beraktifitas, semakin banyaklah orang yang mulai kesal dengan tokoh Regi Willian. Banyak yang memblokir akun tersebut, mengacuhkan setiap komen yang saya tuliskan, atau yang paling asyik menurut saya, beradu argumen dengan orang-orang tersebut. Sungguh, ketika beradu argumen di dunia nyata saya lebih memperhatikan kata-kata saya apakah orang tersebut akan tersinggung atau tidak dengan pendapat saya, apakah pendapat saya terlalu dangkal atau tidak, nyambung atau tidak, di akun ini saya lebih liar, cuek, dan apa adanya. Gak peduli apa kata orang.
Saya menikmati setiap momen dimana saya bisa bertindak bebas mengeluarkan apa isi pikiran saya kepada orang-orang, tanpa khawatir terhadap perasaan orang tersebut. Ada sebuah perasaan lega dan puas ketika saya berhasil jujur, dan bahkan membuat orang tersebut kalah (bahkan kesal) dalam adu argumen. Memang, saya akui, kegiatan ini sama sekali tidak sehat, tapi saya menikmatinya! Saya tidak peduli bagaimana perasaan orang mendengar tanggapan-tanggapan saya. Saya menikmati menjadi dalang dari Regi Willian. Seperti memainkan boneka tali, bisa diatur dan digerakkan sesuai dengan keinginan kita. Apapun yang kita lakukan, kemarahan akan ditimpakan kepada si boneka, Regi Willian, bukan kepada saya sebagai tokoh di balik semuanya. Kehidupan saya sebagai Regi Willian ditutup rapat-rapat, saya tidak ingin ada seorangpun yang mengetahui hal tersebut.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika Bulan Ramadhan, yang merupakan saat ketika saya dan Dewi, teman dekat saya sedari kecil sering memiliki waktu bersama, mulai dari subuh sampai tarawihan malamnya. di bulan itu kami sering curhat-curhatan, saling jujur tentang masalah satu sama lain (karena di bulan itulah intensitas kami bertemu sangat tinggi karena pada dasarnya kami beda kampus dan punya kesibukan masing-masing walaupun kami berada dalam satu kompleks perumahan). Dan akhirnya, saya menceritakan rahasia terbesar saya kepada teman saya tersebut.
Malu. Itu yang saya rasakan. Saya memang jujur berkata kepada orang lain di akun tersebut. Tapi di lain sisi, saya menyadari satu hal, selama ini saya tidak jujur kepada diri saya sendiri. Mengapa harus menjadi orang lain dulu untuk jujur? Mengapa harus berpura-pura dan menipu diri sendiri di kehidupan nyata? Mengapa harus menelan bulat-bulat pendapat yang menurut kita benar demi menjaga perasaan orang lain? Mengapa saya begitu bodohnya membiarkan diri saya sendiri tertekan oleh pendapat-pendapat yang tidak bisa saya keluarkan hanya demi menghargai perasaan orang lain? Apakah saya sudah termasuk si Sampah yang ada di postingan saya kemaren? Silahkan jawab. Atau bisa juga gunakan bantuan phone a friend, ask the audience, dan fifty fifty. Atau kirim sms sekarang juga dengan format ketik eji (spasi) jawaban kirim ke 3288 sekarang juga, siapa tau bisa dapat bingkisan bagi siapapun yang mengatasnamakan dirinya hamba Allah. Maaf, bila anda hendak mengirimkan bom waktu, silahkan kirimkan ke alamat yang tertera di bawah ini.. *nunjuk ke bawah*
Malu. Itu yang saya rasakan. Saya memang jujur berkata kepada orang lain di akun tersebut. Tapi di lain sisi, saya menyadari satu hal, selama ini saya tidak jujur kepada diri saya sendiri. Mengapa harus menjadi orang lain dulu untuk jujur? Mengapa harus berpura-pura dan menipu diri sendiri di kehidupan nyata? Mengapa harus menelan bulat-bulat pendapat yang menurut kita benar demi menjaga perasaan orang lain? Mengapa saya begitu bodohnya membiarkan diri saya sendiri tertekan oleh pendapat-pendapat yang tidak bisa saya keluarkan hanya demi menghargai perasaan orang lain? Apakah saya sudah termasuk si Sampah yang ada di postingan saya kemaren? Silahkan jawab. Atau bisa juga gunakan bantuan phone a friend, ask the audience, dan fifty fifty. Atau kirim sms sekarang juga dengan format ketik eji (spasi) jawaban kirim ke 3288 sekarang juga, siapa tau bisa dapat bingkisan bagi siapapun yang mengatasnamakan dirinya hamba Allah. Maaf, bila anda hendak mengirimkan bom waktu, silahkan kirimkan ke alamat yang tertera di bawah ini.. *nunjuk ke bawah*
Dan begitulah, akun tersebut akhirnya saya hapus. Mungkin itulah masa labil saya yang mana akan saya kenang untuk kemudian ditertawakan dan diambil hikmahnya serta dijadikan pengalaman hidup. Dan nama Regi Willian sendiri adalah sebuah kekeliruan yang mana ketika seharusnya huruf "N" pada Willian adalah huruf "M" dikarenakan saya ingin menciptakan akun ajang balas dendam (atau kepribadian yang lepas kontrol karena banyak kejujuran yang harus dipendam di kehidupan nyata yang disebabkan ketidakmampuan untuk mengungkapkan sesuatu secara apa adanya) tersebut agak bernuansa kebarat-baratan dengan nama William, tapi apa daya jari lentik kekar berotot ini pun juga tak luput dari kekhilafan pada saat pembuatan akun.
Kamis, 17 Januari 2013
The Perks of Being a Wallflower
Definisi Wallflower dari Wikipedia : a slang term used to describe shy or unpopular individuals who do not socialize or participate in activities at social events. It is most often used to describe someone who stays close to a wall and out of the main area of social activity.

Di awal film ini tiba-tiba saya dicurhati oleh Charlie tentang pengalaman masa lalunya. Menjadi seorang nerd sama sekali bukan keinginan Charlie, itu bisa saya liat dari usaha Charlie mendekati Sam dan Patrick, yang ternyata juga sangat welcome padanya. Dan dari usahanya itulah, Charlie sedikit demi sedikit memberikan kesempatan untuk dirinya sendiri keluar perlahan dari dunianya yang introvert.
Ketika melihat film ini saya merasa bersyukur tidak menjadi introvert di luar negeri. haha.. untung hanya di Indonesia, karena di luar negeri, seorang nerd selalu menjadi sasaran bullying. Kalau di Indonesia mah, orang introvert dibilang sombong karena jarang ngumpul bersama orang-orang, hahahaha.. levelnya jauh lebih tinggi dari yang di luar negeri :DMelihat kehidupan Charlie saya seperti melihat kehidupan saya sendiri, mulai dari sifatnya, sampai ke trauma masa kecilnya. Saya juga mengiyakan setiap plot dimana Charlie selalu membiarkan orang bahagia tanpa mengacuhkan perasaan pribadinya. Saya juga cenderung hanya memperhatikan dan membiarkan orang lain melakukan apa-apa saja yang mereka ingin lakukan, walaupun saya tidak setuju mereka melakukan itu. Alasannya sederhana saja, saya tidak ingin mereka meninggalkan saya hanya karena saya tidak sependapat dengan mereka. Saya selalu takut disisihkan. Takut ditinggal sendiri oleh orang-orang yang telah berhasil saya dekati.Di film itu saya juga suka sama tokoh Patrick. Siapa sangka dibalik keceriaannya Patrick memiliki kehidupan homoseksual dengan cowok populer di sekolah. Hal tersebut menjadi beban baginya karena harus selalu menyembunyikan kisah terlarangnya, belum lagi hal tersebut adalah skandal besar bagi Brad, mengingat dirinya adalah cowok keren atlit sekolahan yang selalu disegani orang-orang. Awalnya saya menduga-duga Patrick ini tokoh antagonis dalam cerita karena yang memainkannya adalah Ezra Miller, seorang anak imbisil menyebalkan dalam film We Need to Talk About Kevin yang belum lama saya tonton. Haha saya sangat suka aktingnya dalam film itu. Di film The Perks of Being a Wallflower ini juga, he is my new idol!Tak peduli apakah kamu introvert atau tidak, punya teman itu adalah sebuah kebutuhan. karena saat kamu berada di antara teman-teman, "I can see it, this one moment when you know you're not a sad story. You are alive!" ujar Charlie. Dan lagi-lagi saya ngangguk-ngangguk mengiyakan.
*oh iya, sebelumnya saya gak nyadar, ternyata film ini settingnya tahun 90an :)*Ketika menulis ini sejenak saya terpana melihat orang yang saya panggil Papa tiba-tiba mencampurkan nasi ke kolak ubi yang beliau makan. "Lamak, ji.. Cubolah..," ujarnya sambil menyuap makanan yang tiba-tiba berubah menjadi nasi sup kolak.
Rabu, 28 November 2012
I Love You, People!
masalah semakin banyak datang dalam kurun waktu dua bulan terakhir ini. dan kayaknya masalah datang ke semua segi kehidupan saya. mulai dari masalah keluarga, masalah studi, masalah cinta, masalah keuangan, dan masalah lain yang entah kenapa, saling berhubungan. saya semakin tidak tau harus bagaimana dan bercerita pada siapa. cerita ke orang tua gak mungkin karena beliau saja menggunakan saya sebagai tong sampah atas luapan kekecewaan mereka. dimana otak saya kalau saya juga menceritakan masalah ini kepada mereka. jujur, saya gak ingin mereka tambah susah. dilain hal, masalah saya juga bertambah seiring dengan banyaknya keluh kesah orang tua yang diceritakan kepada saya. sayang sekali, otak saya terbiasa membiarkan masalah orang lain untuk ikut mengambil porsi pemikiran. belum lagi saya juga memikirkan kekecewaan orangtua kepada saya yang gak bisa tamat tepat waktu kemudian mendapatkan pekerjaan layak. kalau saja saya mampu mewujudkan hal itu, tentu hal-hal lain yang menjadi masalah pada saat ini, gak akan muncul. belum lagi urusan cinta-cintaan yang makin lama kondisinya makin gak mengenakkan. maksud saya bukan antara kami berdua, tapi lingkungan.
sebagai seorang anak tunggal (duh, lagi-lagi saya menjelekkan posisi yang bagi sebagian orang menganggap posisi yang paling menyenangkan, maaf Tuhan, saya senang jadi anak tunggal, tapi tentu bagian yang gak mengenakkannya juga ada, tapi saya berusaha bersyukur), saya dituntut bermacam-macam. apapun. sungguh, saya lelah. saya capek jadi pengharapan semua orang, karena kalau saya gagal, rasa bersalah saya sangat besar. diwaktu saya jadi tempat curhat orang-orang terdekat, saya gak tau harus bilang apa karena masalah saya sendiri saja belum terpecahkan. apa-apa kalau jadi anak tunggal, jalan hidup kita sudah ditentukan dari sekarang. jalannya dikasih hiasan bunga mawar, walaupun saya lebih suka bunga melati. jalannya dibikin pake semen, walaupun saya lebih suka pake aspal. di sisi kiri kanan jalan sudah ditanami taman kecil, walaupun saya lebih suka ditanami pohon-pohon besar. jalanan yang gak "saya banget" itu tiba-tiba sudah membentang panjang di hadapan saya. mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus melewati jalan itu. saya gak diijinkan membangun jalan sendiri karena ibaratnya saya gak punya surat ijin bangunan, dan kapasitas saya dianggap belum mampu untuk membuat jalan yang bagus. terlebih lagi, diri saya sendiri gak mempunyai saya. bahkan mereka juga sudah mempersiapkan "teman perjalanan" untuk melewati jalan yang sudah dibuat. karena saya sendiri gak punya saya, saya bisa apa? kalau saya memberontak, saya memang gak tau diri sekali. sudah bagus dibesarkan sampai sebesar ini, dikuliahin, dikasih makan, dikasih uang jajan, plus belum mampu membuat sesuatu yang bikin bangga mereka, mau memberontak? mau protes? dasar anak durhaka!
yah, saya cuma mau bilang, saudara itu penting. SAUDARA ITU PENTING, TUHAN..
tapi..
ALHAMDULILLAH, masih ada orang yang posisinya di bawah saya. Alhamdulillah saya udah dibuatin jalan, alhamdulillah saya bisa ngetik pakai notebook sekarang.alhamdulillah saya masih bisa nabung. alhamdulillah saya masih bisa berkumpul sama keluarga. alhamdulillah saya selalu diharapkan dan selalu dikasih tuntutan. alhamdulillah, berarti saya masih eksis di kehidupan orang-orang di sekitar saya. walaupun saya gak eksis di kehidupan saya sendiri, tapi untuk kali ini dan seterusnya, kehidupan orang-orang di sekitar saya adalah kehidupan saya sepenuhnya. "kepentingan umum harus di atas kepentingan pribadi". Tulisan itu kayaknya juga udah terpampang di baliho jalan hidup saya. yah, biar saya gak egois mungkin maksudnya.
Rabu, 27 Juni 2012
Renovasi Gubuk
hari ini otak saya kayak gubuk yang tak berpenghuni. kosong karena tak tau langkah apa selajutnya yang harus saya ambil untuk menghadapi permasalahan hidup yang cukup pelik ini. Siklus yang semakin surut dalam diri saya begitu mencuat tak terbantahkan. memendam bukan solusi untuk tahu, lebih baik mulailah bercerita. berhubung saya bukan tipe pendongeng dalam radio, jadi saya hanya bisa mengandalkan jari saya untuk bercerita. saya masih perlu banyak belajar untuk dapat mensinkronisasikan otak dengan rongga mulut. Pabila anda menemukan seidkit esensi kegalauan dari apa yang saya pergayakan dalam setiap untaian kata dan kalimat yang sedang dibaca kalian semua, ketahuilah.. anda semua salah sedikit dan benar besar. tepuk tangan untuk kalian semua, kedip manja untuk anda, serta kecup mesra buat kamu.
oke, mungkin terlalu lebay menganggap ini masalah yang pelik karena murni permasalahan ini berawal dari rasa malas yang sudah terlalu menggerogoti diri. tapi toh scene hidup yang ini harus saya lalui juga, dan kalau bisa saya akan berusaha untuk menciptakan scene yang fantastis agar film kehidupan saya bisa dapet award dari yang maha kuasa dan jadi box office untuk semesta. namun untuk saat ini, kalimat "hwaiting!" yang biasa dijeritkan oleh lidah cantik ledis korea pun tak mampu membakar gairah untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda ini.
oke, mungkin terlalu lebay menganggap ini masalah yang pelik karena murni permasalahan ini berawal dari rasa malas yang sudah terlalu menggerogoti diri. tapi toh scene hidup yang ini harus saya lalui juga, dan kalau bisa saya akan berusaha untuk menciptakan scene yang fantastis agar film kehidupan saya bisa dapet award dari yang maha kuasa dan jadi box office untuk semesta. namun untuk saat ini, kalimat "hwaiting!" yang biasa dijeritkan oleh lidah cantik ledis korea pun tak mampu membakar gairah untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda ini.
ketika jeritan ledis korea tadi masih sampai saat ini menjerit-jerit di suatu bagian dalam tubuh ini, saya malah membuang-buang waktu percuma dengan membuat jari-jari sendiri kekar berotot dan tidak lentik lagi dengan mengetik dan "membuat tulisan" dengan tambahan kata "mungkin" sebelum kata "membuat" di dalam ruang yang tidak sedikitpun akan mendapatkan nilai dari dosen di jurusan, tidak seperti pekerjaan yang seharusnya saya lakukan, namun inilah kesenangan. dan janganlah kau hentikan kesenanganku ini. itulah yang saya mohonkan dan lalu permohonan itu sendiri saya tujukan bukan kepada anda, kamu, dan kalian semua. untuk jal ini sayapun berani bersumpah bahwasanya saya tidak melakukan negosiasi permohonan kepada anda, kamu, dan kalian semua. hanya kepada Tuhan-lah permohonan tadi saya tujukan. camkan itu hal baik-baik untuk direnungkan selanjutnya patri dalam hati masing-masing sesuai dengan agama dan kepercayaan kalian. semoga anda, kamu, dan kalian semua tidak pernah salah paham baik dalam ukuran bongkahan raksasa/onggokan besar/potongan sedang/cuilan kecil dan all size berlaku untuk semua ukuran dan variasi harga yang tertera dalam semua produk impor china.
ahh... saya harus merenovasi gubuk ini. memberikannya sedikit furniture agar tidak hanya kosong, kemudian saya perindah dengan poster gadis cantik dari strawhat pirates, nami dan robin, agar ada semacam sensasi kehidupan di dalam gubuk yang tak berpenghuni tadi. agar tulisan ini lebih berisi seperti blognya si anu yang menceritakan tentang filsafat kehidupan, atau blog si anu yang berisikan untaian kata-kata yang seronok, atau lebih seperti pekerjaan yang harusnya saya kerjakan namun tidak saya kerjakan karena kesenangan sementara sebagai wujud pelampiasan saya terhadap pekerjaan yang tidak kunjung selesai dikarenakan ada semacam gubuk yang masih tidak berpenghuni tadi.
Waktu menunjukkan pukul 9 tidak tepat karena sudah lebih 10 menit dari hitungan tepat yakni 09.00 WIB + 10 Menit sama dengan 09.10 WIB. Lanjut ke persoalan berikut yang mengenai WIB yang merupakan bukan singkatan dari Wanita Impian Bapak, akan tetapi yang sedang saya bicarakan ini mengenai perkara waktu sehingga WIB itu sendiri mempunyai arti kepada maksud Waktu Indonesia Barat. Tampar saya apabila kesalahan hanya mengklaim serta merta memonopoli diri saya saja sebagai miliknya seorang.
Minggu, 01 April 2012
I'm The Only Child
Mungkin mereka yang punya banyak sodara bilang anak tunggal menyenangkan, diperlakukan kayak putri dan anak raja, semua yang diinginkan selalu ada, hari-hari selalu menyenangkan. Mereka pikir anak tunggal memiliki ego yang besar karena merasa apa yang diinginkan selalu terkabulkan, kepada siapapun mereka meminta. Mereka pikir anak tunggal adalah anak yang cengeng, manja dan tidak bisa apa-apa. Namun mereka salah. Salah besar.
Saya sudah 21 tahun menjalani hidup sebagai anak tunggal. Seluruh kasih sayang tercurahkan pada saya, memang sangat menyenangkan. Sangat menyenangkan. Saya bersyukur untuk itu. Tapi, di samping sisi kehidupan saya yang sangat menyenangkan tersebut, ada satu sisi dimana saya merasa sungguh-sungguh sendirian –walaupun saya punya banyak teman. Saya pikir, saya sendiri yang menyebabkan mengapa saya merasa sendiri. Saya introvert.
Saya sangat-sangat membenci bagian dari diri saya yang introvert. Tidak seharusnya saya memikul tantangan –jika kata beban menjadikan saya berimage mudah mengeluh- ini sendirian. Tentu saya juga tidak mau membagi-bagi beban kepada orang lain, tapi setidaknya dengan bercerita, “katanya” bisa mengurangi beban.
Mengapa disaat teman-teman begitu percaya kepada saya bercerita tentang segala hal, mulai dari hubungannya dengan pacarnya, sampai ke kehidupan rumah tangganya, saya justru harus berpikir ratusan kali, apakah saya akan menceritakan apa yang saya alami dan apa yang tengah saya hadapi kepada teman dekat saya sendiri. Pun begitu juga kepada kedua orang tua saya, jarang sekali saya mampu bercerita tentang apa yang terjadi.
Jika saya ada waktu, pasti saya akan mendengarkan setiap orang yang ingin bercerita kepada saya. Kapanpun mereka mau, saya selalu berusaha ada ketika mereka minta didengar. Namun, ketika saya ingin bercerita, mengapa saya hanya bisa menelan bulat-bulat apa yang ingin saya bicarakan? Dan disisi lain pun saya juga merasa, mereka yang akan mendengarkan ceritaku akan berpikir, “Untuk apa gunanya saya mendengarkan dia? Toh tidak ada berarti apa-apa untuk saya”. Dan akhirnya saya hanya bisa menelan kata-kata yang sudah tersangkut di kerongkongan dan memaksa untuk kembali memasukkannya ke hati. Dan karena hati menjadi nyeri karena tidak mampu lagi menampung sampah-sampah yang tidak jadi dikeluarkan, maka tubuh saya akan mengeluarkannya berupa air mata.
Entah kenapa saya merasa menjadi anak tunggal adalah hal yang sangat menyedihkan. Ketika teman-teman saya yang mempunyai saudara bisa melakukan hal-hal yang mereka inginkan, seperti mau menjadi apa saat besar nanti, ingin mencoba hal-hal baru, berjalan dengan jalan yang dipilih sendiri, saya justru memiliki beratus-ratus pertimbangan ketika ingin melangkahkan kaki satu langkah saja. Selalu gamang. Saya harus mempertimbangkan bahwa saya adalah anak tunggal, saya harus berhasil di kehidupan karena saya satu-satunya harapan mereka. Jika saya gagal, maka sama saja saya membawa mereka turut serta menuju kegagalan. Bandingkan dengan teman saya yang punya seorang saudara, harapan tersebut bisa mereka emban berdua. Dikala saatnya kita dewasa pun juga, orang-orang yang bersaudara mempunyai teman untuk saling berdiskusi, saling meminta saran dan saling menjaga. Anak tunggal? Lagi-lagi harus bisa berdiskusi dengan diri sendiri, mengambil keputusan sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan menikmati hal-hal lain sendirian. Kecuali anak tunggal yang ekstrovert.
Saya sangat membenci jika ada orang yang memandang saya manja hanya karena mengetahui saya anak tunggal. Biasanya mereka yang memandang saya seperti itu hanyalah orang-orang yang mengenal saya setengah-setengah.
Semoga Tuhan memaafkan saya yang tidak tau diuntung ini. Tapi tidak bisa dipungkiri, memang begitulah rasanya jadi anak tunggal. Namun bagaimanapun juga saya bersyukur.
Terkadang saya sangat merindukan sosok saudara, yang bisa membantu saya untuk menjinjing beban ini bersama-sama. Tapi Tuhan memberikan seorang anak tunggal kepada ibu dan ayah saya, itu berarti mungkin saya mampu menahan ini sendirian. Ataupun juga bisa berarti, Tuhan mau saya tidak buta melihat orang-orang terdekat, yang mungkin juga selalu ada untuk saya.
Yah, semua ada plus minusnya. Karena sempurna, selalu dinilai berlebihan.
Minggu, 28 Agustus 2011
Bukan Tulisan
Saya suka menulis. Suka sekali. Meruntun imaji dalam untaian kalimat. Dulu, tapi. Sekarang? Saya jarang sekali menulis. Kepalang takut. Bukan, bukan karena saya takut akan judgment atas tulisan saya. Toh kebanyakan apa yang saya tulis saya simpan hanya untuk konsumsi pribadi. Saya takut apa yang saya tulis itu tidak ada harganya, dangkal. Yang akhirnya membuat saya berpikir kalau otak ini tidak cukup liar untuk berkisah dengan layak dalam rangkaian kata. Saya rindu saya yang dulu yang bisa duduk berjam-jam di depan layar komputer atau di hadapan sebuah buku untuk menuangkan buah pikiran saya; puisi asal rangkai atau cerita asal khayal, yang sekarang saat saya baca kembali, menimbulkan rasa malu juga salut. Salut karena saya ternyata bisa menyelesaikannya, namun malu karena hanya segitu saja kemampuan saya.
Ya, bedanya adalah… Dulu saya tidak peduli, tapi sekarang saya terlalu banyak berpikir. Seperti detik ini, mau mulai menulis saja mikirnya tidak cukup sekali.
Ya, bedanya adalah… Dulu saya tidak peduli, tapi sekarang saya terlalu banyak berpikir. Seperti detik ini, mau mulai menulis saja mikirnya tidak cukup sekali.
Sabtu, 04 Juni 2011
ia, mungkin kamu dulu punya segalanya. perhatian, prestasi, kepercayaan, itu dulu. duluuuu sekali sampai kita bertemu. dan kamu harus menerima, dan merelakan, jika, apa yang kamu inginkan tidak bisa kamu miliki, tapi dimiliki oleh temanmu. apa yang dulu kamu dapatkan, kini tidak diberikan kepadamu. jangan sekali-kali, merebut semua hal yang sepatutnya dimiliki temanmu, dengan cara dan etika seperti orang bodoh, orang tolol. atau malah menunjukkan kelemahan temanmu di depan orang-orang, hanya dengan tujuan, untuk, menunjukkan bahwa kamu terlihat lebih hebat, lebih bisa diandalkan, lebih brillian. karena dengan begitu, akan menunjukkan bahwa, sebenarnya kamu itu cuma NOL. NOL besar. kamu hanya, pemilik otak dengan kapasitas kepala yang terlalu besar. hanya, sebuah bualan yang meracau bebas tanpa isi, dan seseorang yang hidup dengan keindahan masa lalu. ah, kasihan,... dan kesal!
Sabtu, 15 Januari 2011
Tidakkah mereka... Tidak.
Apakah saya masih tidak layak untuk diberikan kebebasan memilih?
Saya, seorang anak. Berumur 20 tahun. 20. Dua puluh. Apakah saya masih belum bisa diberi kepercayaan? Dua puluh. Apakah saya dianggap masih dangkal dan labil? Oh, jika mereka melihat sedikit keluar sana, menjulurkan mata dan pikiran mereka, ke anak-anak yang berumur 20 di luar sana. Mereka akan melihat. Mereka akan tau, bahwa mereka memiliki anak yang pantas diberi kepercayaan.
Tidakkah mereka melihat, anak-anak disana, yang berumur 20 tahun. Dua puluh. Mempunyai mata yang tidak bersinar, dan tidak berminat untuk mengejar masa depan yang lebih baik?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana, yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Begitu leluasanya meninggalkan rumah pada malam hari demi segelas alkohol?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana, yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Meninggalkan rumah pada siang hari hanya untuk memberikan uang pada penjaja fashion untuk mendapatkan berkantong-kantong topeng? Ah. maksudku, pakaian?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Begitu leluasanya menggerayangi tubuh pasangannya, dan menganggap mereka berhak memiliki tubuh tersebut, seperti anjing, memiliki nafsu yang besar, dan tidak bisa mengontrol?
Saya, seorang anak. Berumur 20 tahun. 20. Dua puluh. Apakah saya masih belum bisa diberi kepercayaan? Dua puluh. Apakah saya dianggap masih dangkal dan labil? Oh, jika mereka melihat sedikit keluar sana, menjulurkan mata dan pikiran mereka, ke anak-anak yang berumur 20 di luar sana. Mereka akan melihat. Mereka akan tau, bahwa mereka memiliki anak yang pantas diberi kepercayaan.
Tidakkah mereka melihat, anak-anak disana, yang berumur 20 tahun. Dua puluh. Mempunyai mata yang tidak bersinar, dan tidak berminat untuk mengejar masa depan yang lebih baik?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana, yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Begitu leluasanya meninggalkan rumah pada malam hari demi segelas alkohol?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana, yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Meninggalkan rumah pada siang hari hanya untuk memberikan uang pada penjaja fashion untuk mendapatkan berkantong-kantong topeng? Ah. maksudku, pakaian?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Begitu leluasanya menggerayangi tubuh pasangannya, dan menganggap mereka berhak memiliki tubuh tersebut, seperti anjing, memiliki nafsu yang besar, dan tidak bisa mengontrol?
Seperti itukah aku, wahai orang-orang yang menyayangiku? Aku. 20 tahun. 20. Dua puluh. Dua puluh tahun kita bersama. Tidakkah mereka tau seperti apa aku. Seperti apa pemikiranku. Seharusnya mereka tau, bahwa aku, anak dua puluh tahun, sudah bisa berpikiran dewasa. Berpikiran lebih baik, dari mereka, anak-anak yang berumur dua puluh tahun lainnya.
Aku tidak mereka. Aku membuat langkah untuk masa depanku.
Aku tidak mereka. Aku lebih berdiam di rumah.
Aku tidak mereka. Aku lebih memilih buku daripada topeng, ah... maksudku pakaian.
Aku tidak mereka. Aku menyayangi dan menghargai kekasihku, yang menyayangi dan menghargai aku.
Aku tidak mereka. Aku membuat langkah untuk masa depanku.
Aku tidak mereka. Aku lebih berdiam di rumah.
Aku tidak mereka. Aku lebih memilih buku daripada topeng, ah... maksudku pakaian.
Aku tidak mereka. Aku menyayangi dan menghargai kekasihku, yang menyayangi dan menghargai aku.
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, layak untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, anak dua puluh tahun, berhak untuk memilih seperti apa masa depanku?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, punya otak, untuk berfikir, dan mempertimbangkan manakah hal yang terbaik untuk aku, dan mereka?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, telah lama memendam, mempurukkan, dan menumpukkan pilihan-pilihanku?
Tidakkah mereka tau, tumpukkan pilihan ini, hanya keluar, sebagai air mata?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, punya otak, untuk berfikir, dan mempertimbangkan manakah hal yang terbaik untuk aku, dan mereka?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, telah lama memendam, mempurukkan, dan menumpukkan pilihan-pilihanku?
Tidakkah mereka tau, tumpukkan pilihan ini, hanya keluar, sebagai air mata?
Tidak. mereka tidak tau.
Sekarang. Pilihkan aku pilihan. Apa saja. Aku akan mengekor. :(
Rabu, 15 Desember 2010
Muntahan
Aku, berbeda denganmu. kau mungkin saja cenderung lebih mempermudah hidupmu. Kau selalu menghindari masalah. dan enak saja kau bilang aku ini sok sibuk? Aku bukan sepertimu, kubilang. Kau terlalu memandang segala hal dari satu sisi saja. Sekali lagi aku perjelas, aku bukan orang sepertimu. Mungkin memang cara bersenang-senangmu adalah dengan menghamburkan uang orangtuamu pada para penjual baju bermerek, menghias tubuhmu dengan aksesoris mahal, atau sekedar mencicipi makanan berharga puluhan ribu? ia, itu memang caramu. makanya kamu tidak suka aku. Tau cara bersenang-senangku gimana? Aku lebih memilih menyalurkan kemampuanku pada sebuah organisasi. Aku menulis dan membiarkan orang-orang membaca tulisanku. Sekarang lihat kan, aku ini lebih baik darimu. Aku ini tidak sama denganmu. Disini aku telah mempunyai tujuan hidup sedangkan kau masih sibuk mempercantik diri. Dan kau pun tak punya hak untuk mengatakan aku ini sok sibuk. Lihat dulu dirimu. Kamu itu yang terlalu sibuk dengan urusan nafsu tak perlu. Sekalipun kau mencibir di belakangku, mengacungkan jari tengah, dan mungkin hingga kau muntah, aku tak peduli. Apapun kata-katamu dibelakangku, sekali lagi ku bilang, aku tak peduli. Huh. Kau tau, aku benci orang sepertimu. Kau itu terlalu ikut campur masalah cara bersenang-senangku, tau? Lihat aku, apa aku pernah protes dengan apa yang aku lakukan bersama geng sampah mu itu? tau kenapa aku bilang geng mu geng sampah? karena kau dan geng sampah mu itu sedang perang dingin, kau tau? Kau dan mereka bukanlah teman. Mereka, mereka yang kau anggap teman itu, selalu menjelek-jelekkanmu di belakang. oh iya, kau kan juga sering begitu ketika salah satu temanmu tidak ada diantara kalian. kau juga ikut-ikutan menjelek-jelekkan temanmu. Kamu sadar tidak sih apa artinya teman? Kau itu harusnya memberitahu apa yang benar, bukannya malah menjelek-jelekkan dan membeberkan kebusukannya. Dasar oportunis. Itu adalah salah satu alasanku tidak ingin dekat-dekat denganmu. Aku menjaga jarak denganmu, kau tau? Kan sudah ku bilang, aku ini tidak sama denganmu.
Masih mau protes?
Nih, jari tengahku sudah tegap berdiri mengarah padamu.
Minggu, 24 Oktober 2010
Balada Kompi
Assalamualaikum ya habibi ya habibaahh...
Akhirnya, setelah setengah abad saya dengan bangga mengatakan akhirnya saya bisa postingan lagi. Jujur, sampai kemarin, rumah saya dibanjiri surat berisi keluhan-keluhan rata-rata berisi kayak gini “jiji_niez.. kok gak postingan lagi siiieehh.. aku kangen nih ama tulisan kamu, oh gosh.. aku gak rela kalo kamu absen segini lama! Aku gak kuattt...”
Trus henpon saya juga dibanjiri sms-smsan bernada sama kayak “j1j1_n13z, k0k g4k nul15 d1 bl09 l4g1? Buru4n y44 so4lny4 4ku l491 gund4h-gul4n4. 53b3lum 1tu pl15 t3lp0n 4ku d4n ny4ny11n 4ku k30ng r4cun”.
Belum lagi suara deringan telepon yang saban hari menggangggu aktivitas kuliah modelling dan karir saya yang sungguh, manejer saya sangat kewalahan menghadapinya.
Baiklah. Inilah jawaban dari kegundahan kalian. Kenapa saya berhenti posting akhir-akhir ini. Jawabannya adalah KOMPUTER SAYA MANGAMBOK! (untuk pembaca yang berada diluar provinsi SUMBAR mania, mangambok is mengambek). FUCK, DAMN, SHIT, FUCKIN SHIT! FUCKIN HOLE (?) !, BASTARD!! ARRGH!!
Allahuakbar. Tiba-tiba aku ingat kata-kata umi. “Eji, jangan berkata-kata kasar kayak gitu dong, nantik Umi tampar cama kamu sama alu. Baca astaghfirullah cepat,” (untuk pembaca yang berada di luar SUMBAR, cama is mulut)
Walaupun sudah diberi sesajen pun si kompi gak mau nyala. Dari es durian sampai es nenas hati ayam tetap gak bisa membuka mata hati kompi nista. Dari belaian halus di bagian monitor dan CPU, hingga hentakan serta lemparan piring pada layar juga tidak mampu menyentuh ruang rindu kompi. Oh kompi, biarkan aku berlabuh didepanmu, plis. Ai lof yu. Aku janji gak akan kasar-kasarin tikus (mouse) kamu lagi. Aku janji gak akan nyetel musik ceria sederhana My Chemical Romance dan Megadeath dengan volume maksimum lagi. Aku akan menyetel lagu dua cincinnya Hello saja, atau lagu Candy yang ada “aw..aw..” nya, atau lagu the sister yang ngebit macan mania. Tapi plis, ijinkan aku untuk bersama kamu lagi, kompi. Aku mohon..
Aku berdoa kepadaNya agar kamu kembali membuka hati kamu untuk aku. Jujur,aku sangat merindukanmu, ohh.. kompi nista.
salam kangen,
jiji_niez
salam kangen,
jiji_niez
Selasa, 07 September 2010
sapaan selamat tidur.
Hai.
Kamu tau? Aku disini, menghargai keberadaanmu. Mengakui bahwa kamu ada. Ada di suatu kotak diantara kotak-kotak lain di ruang hati. Ada salah satu kotak yang cuman kamu didalamnya. Aku berusaha, tidak akan pernah membiarkan kotak itu disentuh oleh manusia manapun, walau mausia itu hanya sekedar melirik dan melihat kedalam. Sungguh, aku menjaga diriku untuk tidak memasukkan manusia lain kedalamnya. Aku bukan tipe serakah dan keganjenan (atau bahkan sekedar penasaran), tepe-tepe sana sini mendekati manusia lain. Aku manusia yang cukup tau diri bagaimana menghargai dan membalas kasih sayang yang aku dapatkan (meskipun tak sebanyak yang kamu berikan). Cukup kamu tau bagaimana aku berusaha mengunci kotak itu rapat-rapat, menjaganya, memberinya asupan kasih sayang… Aku, menguncinya rapat-rapat ketika aku ada didekat kamu, ketika aku berada di jarak 10 meter di dekat kamu, ketika aku dan kamu dibatasi beberapa tembok, berpuluh-ratus kilometer… Aku tidak akan membiarkan orang lain mengintip kotak yang sudah jadi rumah kamu, dan kemudian membuat aku penasaran serta menariknya masuk kedalam, dan kemudian membuat aku perlahan-lahan mengacuhkan kamu dan akhirnya menggantikan kamu, Insyaallah, tidak akan. Bagiku cukup kamu.

