Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 November 2014

Rancap

Di sebuah malam minggu yang tenang si aku kembali memilih untuk berdiskusi dengan seorang teman lamanya, si saya. Diskusi yang cukup alot sebenarnya, karena topiknya pun sedikit rumit dan runyam. Lebih runyam daripada masalah "aku cinta kamu mas akan tetapi kamu kerap kali bermesraan dengannya maka wajarlah aku cemburu dan kemudian berselingkuh dengan pria lain yang lebih kaya darimu". 

Saya: miris sekali ya, malam minggu ini kita hanya berdua bercakap-cakap. tak ada debaran, tak ada darah yang bergejolak hingga menyentuh kelamin, tak ada rabaan..

Aku: hei.. aku memintamu menemaniku bukan untuk menjabarkan tiap-tiap adegan percintaan ala remaja barat yang barusan kau tonton! dasar kau si otak kelamin! cobalah lebih serius sedikit. hidup bukan hanya berpusat pada hati dan kelamin, kau tau..

Saya: halah.. mending kayak saya, terang-terangan bilang kelamin kelaminan daripada si anu si itu, bilangnya "sayang kamu dengan tulus" atau "sayang kamu dengan ikhlas", atau "aku mencintaimu dengan sederhana". Padahal asal kau tau saja, benda tak bertulang di antara pahanya sudah menggelegak tak karuan ketika melihat cewek lain yang lebih seksi dan montok. Banyak yang seperti itu. Lain di mulut, lain di hati, lain di otak, lain di kelamin. Bullshit lah semua tentang cinta-cinta..

Aku: iya aku setuju denganmu, tapi jangan terlalu vulgar begitu lah, bayangkan kalau orang mendengar percakapan kita yang sebenarnya wajar tapi masih dianggap tabu seperti ini. Mereka bakal bilang "Ssst.. si Aku dan si Saya berduaan berbincang tentang kelamin loh!". Bisa salah paham jadinya. Kecuali kalo kamu ingin dituduh masturbasi. Apalagi orang-orang sekarang suka mendengar hal yang setengah-setengah. Dan belum lagi kalau kita membela diri, kita akan dibilang bohong. Orang sekarang kan juga suka dibohongi.

Saya: Iya juga sih. Lagian, wajar orang suka salah paham. Segalanya memang terlihat menipu di dunia ini. Tak ada yang benar-benar terlihat secara gamblang kebenarannya. Kecuali satu hal.

Aku: apa itu?

Saya: kelamin.

Aku: sial! kamu mau membuat page ini jadi mesum hah! Aku tau ini sudah malam, jadi tahanlah sedikit! Lagian sudah kubilang, aku memintamu menemaniku bukan untuk membicarakan masalah vulgar ini, dasar kau mesum! Aku ingin membicarakan hidup dan pilihan, sebuah hal yang lebih luas dari kelaminmu itu!

Saya: hahaha.. jangan emosi begitu lah. kau kan tau, orang-orang akan tertarik pada pembicaraan tentang seks. Anggap saja ini intermezo yang asik. Walaupun pada kenyataannya orang-orang yang mungkin mendengar kita akan menganggap kita kurang beradab. 

Aku: kamu memang kurang beradab!

Saya: jadi, bagaimana kehidupan dan pilihan yang kamu pilih? jangan sampai kamu saya gampar gara-gara mengataiku kurang beradab sekali lagi..

Aku: aku ingin jadi Kugy dan Keenan

Saya: maksudmu, kamu ingin jadi biseksual?

Aku: cmon! jangan tentang sex lagi!

Saya: Kugy itu perempuan dan Keenan itu lelaki. kesimpulan apa lagi yang bisa kuambil selain kata biseksual?

Aku: Kugy adalah seorang pendongeng, dan Keenan adalah seorang pelukis.

Saya: mungkin kamu bisa jadi biseksual, tapi kamu tidak bisa menjadi segalanya. Maksudku, menjadi Kugy dan Keenan.. kau tidak bisa hidup didunia dengan keserakahanmu itu, bego. Kugy yang sebagai Kugy, dan Keenan yang sebagai Keenan, bisa bersatu karena mereka saling melengkapi. Kau tidak bisa menjadikanmu sempurna karena memiliki dua kemampuan. Hampir sempurna, mungkin. Tapi tidak sempurna. Orang bisa sempurna karena kekurangan itu sendiri. Orang bisa sempurna karena bantuan orang lain. Kelebihan dan kekurangan, itu pun hakikat manusia. Saling bekerja sama. 

Aku: Bekerjasama sekalipun butuh kepercayaan tanggung jawab dan segudang hal lain yang rumit! Berurusan dengan manusia memang rumit. Sedangkan berurusan dengan kau saja sudah membuat aku pusing. Jika aku menjadi Kugy dan Keenan, maka tak ada hal yang perlu aku khawatirkan. Ketika aku jadi Kugy, aku tak perlu khawatir Keenan akan membatalkan kerja sama denganku dalam membuat sebuah cerita bergambar ketika aku tak mau diajak kencan olehnya. Begitu juga sebaliknya, jika aku jadi Keenan, aku tak perlu khawatir jika Kugy merajuk karena aku cuekin dan cerita bergambarku tidak selesai. Jika aku punya keduanya, aku bisa mengerjakan impianku dalam damai.

Saya: Kamu tidak akan pernah sukses jika memiliki banyak impian tapi tidak fokus pada satu apapun! lebih baik kamu pilih saja satu, dan kamu jadikan dirimu expert, itu jauh lebih efektif daripada kamu mengejar dua-duanya sekaligus. Kau ini seperti masturbasi saja. 

Aku: Sialan. jangan bawa-bawa kalimat mesum itu lagi, brengsek!

Saya: saya bicara serius. Kau tidak akan bisa mengejar kesempurnaan dengan berusaha menjadi segala. Kau sempurna karena ada orang lain yang tidak sempurna yang membantumu menjadi sempurna. Dasar kau, sampai kapan kau akan pongah seperti itu hah? Kau harus bisa mengukur bayang-bayang. Kau mau terus-terusan dicap gila oleh orang-orang?

Aku: peduli setan!

Saya: kau harus peduli. sudah saatnya kau menurunkan egomu dan berhenti mencoba menjadi sempurna! sifatmu yang seperti itu memperparah kegilaanmu, tau!

Aku: heh brengsek, aku ini gila karena mereka melihatku berbicara denganmu!!!

Kamis, 20 November 2014

Juan

Juan Pablo anak nakal. Hidup hura-hura ngikut teman binal. Dirasuki dentuman musik sampai tubuh terpental. 

Sebenarnya, Juan bisa melakukan banyak hal yang lebih baik dari ini. Hanya saja ia terlalu larut dalam euforia dunia yang memang membikin mabuk. Tak hanya Juan yang ikut tergoda, banyak manusia yang lupa daratan jika telah mengecap setitik rasa narkotika dunia. Lupa bangun, lupa jalan pulang, lupa untuk hidup!

Juan Pablo anak nakal. Menganggap kebebasan adalah hal yang sakral. Sarapan di rumah malam tidur di aspal. 

Sungguh apalah yang akan menimpa Juan ketika mendapati dirinya tidak hidup bersama sebuah keluarga yang tidak berada. Gaya hidup yang ia pilih sungguh mengoyak-ngoyak dompet bapaknya yang hanya seorang pegawai biasa. Juan disekolahkan di sekolah ternama. Namun sayang! Pribadinya lebih menuntut disekolahkan bersama anak gaul lainnya di jalanan. Harapan dan asa bapak tercurah pada gelas yang tertutup. Tumpah ruah, basah, membaur bersama bulir-bulir air mata.

Juan Pablo anak nakal. Lagu picisan perayu cewek secara khusus udah dihafal. Pendekatan demi pendekatan dilakukan secara spesial. 

Sebelas dua belas cewek telah ia gauli. Yang cewek juga mau-mau aja digauli. Tak heran, Juan memang berkelebihan pada fisik dan tampang. Sungguh jika ia sedikit memoles otak dan hati, Juan bisa mendapatkan cewek-cewek yang lebih baik dari yang pernah ia gauli. Namun sekali lagi sayang, alih-alih otak dan hati, Juan lebih tertarik memoles kelamin. Asalkan kelaminnya puas. Bagi Juan itulah bahagianya.

Juan Pablo anak nakal. Akhirnya kena sial! Beruntung belum fatal.

Ujian juga bisa datang dari rasa kebahagiaan dan keberuntungan. Hal itu terjadi pula pada Juan. Bapak tak lagi kerja, tak ada lagi modal buat awut-awutan. Cewek pun bubar melihat Juan hampir modar. Seakan jadi cambuk Juan bangkit menata hidup. Layaknya tanaman yang tumbuh dari eek taik kucing, tanaman tersebut kini berbunga indah. Juan Pablo anak intelektual. Juan bisa bangga. Sudah ku bilang, ia selalu bisa lebih baik dari Juan Pablo anak nakal.

Kamis, 26 September 2013

Laras: Deodorant dan Pembalut

Masa muda Laras tak begitu secerah dirinya yang sekarang. Namun begitu, tetap tidak mengurangi rasa tertarikku untuk mengetahui setiap masa yang pernah ia lalui. Laras yang dulu penuh dengan masa-masa dimana ia ingin selalu dianggap dan dihargai. Tak ada hari tanpa ingin dipuja dan dipuji. Tak ada hari tanpa tak ingin dibenci dan menolak penolakan. Angkuh. Egois. Karakter Laras yang sangat aku kenal dan aku pahami.

Laras benci hari Sabtu. Bukan karena dia tidak punya cinta yang bisa dinikmati ketika malam datang. Bukan karena phobia atau apa, dan, sejujurnya, bukan karena hari Sabtu. Tapi, karena hari tersebut hari Sabtu, makanya ia benci. Di hari Sabtu sudah umum dan biasa bahwa anak-anak sekolah memakai baju pramuka. Dan itulah yang dibenci Laras. Baju pramuka. Bukan karena kurang modis, bukan juga karena Laras tak suka warna cokelat. Baju pramuka, membuat keringatnya terlihat jelas. 

Laras benci hari Sabtu, terlebih ketika ia menginjak sekolah menengah atas. Di sekolah menengah pertama, Laras tak mengacuhkan keringatnya. Mungkin, karena belum tau apa arti dari kalimat "menarik perhatian lawan jenis", atau kalimat "selalu terlihat menarik dan sempurna". Dan Laras tersadar akan hal itu, ketika ia masuk ke gerbang sekolah menengah atas. Sebuah tempat dimana nafsunya pertama kali ia buncahkan tanpa henti. Tempat tak terkendali. Dan saat itulah, Laras mulai khawatir dengan keringat.

Hiperhidrosis. Laras punya keringat berlebih dalam dirinya. Penyakit ini mengutuk seseorang menjadi selalu basah di tempat-tempat tertentu seperti telapak tangan, leher, ketiak, dan lipatan-lipatan tubuh lain. Naas bagi Laras, ia dikutuk di bagian ketiak. Dan laras malu akan hal itu, meskipun tidak bau. Menurutku, ia selalu wangi. Dan dia terlalu memikirkan daerah lembab di sekitar ketiaknya tersebut. Malu, karena jika orang lain melihat hal tersebut, Laras berpikir orang lain akan menjauh. Laras pun sepertinya paham betul bahwa hal tersebut akan mengurangi citra dirinya yang selalu mempesona. Laras pun sepertinya paham betul harinya akan rusak di hari Sabtu. Itu semua, pun juga karena Laras paham betul, orang-orang lebih cenderung melihat daripada memahami. 

Laras benci hari Sabtu. Dan pada Jumat malam, Laras stress dan depresi. Ia memukul-mukul ketiaknya sekuat tenaga. Mungkin ia berpikir, keringatnya tidak akan keluar lagi pada pagi harinya. Menurutku, ia sadar dan paham betul, bahwa memukul-mukul ketiak tidak berhubungan dengan tidak berkeringat lagi. Karena itulah kubilang Laras stress setiap Jumat malam. Sabtu paginya, Laras mengoleskan banyak sekali deodorant, berharap ketiaknya bisa tetap kering sekering pagi ini. Letih hati, letih mental, itulah hari di hari Sabtu Laras. Sampai akhirnya Laras menemui batas muak dan bencinya. Benci pada ketiak. 

Sabtu pagi di minggu berikutnya, Laras menggenggam gunting, dan kemudian mengangkat sebelah ketiaknya. Bulu ketiak Laras masih halus. Belum bisa digunting. Maka gunting tersebut Laras gunakan untuk menusuk-nusuk ketiaknya. Ke kedua ketiaknya. Hingga ketiak Laras berkeringat merah. Banyak sekali.

Sehingga, pada hari itu, Laras menemui hari Sabtu indahnya yang pertama. Ajaib, ketiaknya kering! Katanya padaku, ia berterima kasih pada sebuah benda. Bukan, bukan deodorant. Bukan juga pada gunting. Pembalut.

Selasa, 24 September 2013

Laras: Pigura

Sekarang hujan, pada malam di hari kedua kemarau. Walaupun dia ingin, aku yakin Laras tidak akan mengunjungiku pada saat ini karena ia tak suka kebasahan. Ia bukan tipe orang yang akan repot-repot menerobos hujan hanya demi makhluk sepertiku. Sulit membayangkan sosok Laras akan datang menemuiku di saat-saat begini, bahkan walaupun dengan ia menggunakan payung! Jika benar saat ini dia datang, maka pastilah untuk hal yang sangat penting baginya, dan, lagi-lagi, yang menguntungkan baginya. Namun begitu, aku juga pasti akan bahagia karena ia mau datang! 

Dan kemudian, aku memandangi Laras. Melihat senyumnya itu, hatiku merasa terbebas. Terasa jauh lebih ringan, terasa jauh lebih luas, terasa jauh lebih bebas. Bebas. Namun tetap di dalam kebodohan. Melihat raut wajahnya itu, akankah ia akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak? Akankah ia menemukan sosok yang membuatnya serasa bebas dalam kebodohan seperti yang aku rasakan sekarang? Akankah ia bahagia nanti dengan sosok itu? Sungguh, ketika kau denganku nanti, Laras, aku bahagiakan dirimu! Klise? Maka buktikanlah sendiri dengan tetap berada di dekatku! Akan kubahagiakan iblis tamak sepertimu ini, Laras.

Rasa ini sudah terlalu lama tak berbalas. Kau pasti tak kan tau, betapa sulit dan bahagianya menahan ini sendirian. Kau pasti tak kan tau, selagi kau sibuk beroportunis ria, ada seseorang yang akan rela dikacungi olehmu. Dengan rasa ikhlas, bahagia, dan... cinta? Cuih. Tapi itu memang nyata. Sungguh, saat aku berkata seperti ini pun, kau tetap tersenyum di depanku, Laras? Dasar kau monster! Setidaknya pasanglah sedikit wajah kasihan dan iba padaku, walau kau sedang berpura-pura!

Dan... Laras iblis.. kau tau, kau sangat manis dengan senyummu itu. Apakah gerangan yang akan membuatmu menangis? Apakah kira-kira yang akan membuat guratan-guratan wajahmu itu membentuk sebuah ekspresi yang bukan sebuah senyuman? Apakah yang bisa mengusir senyum itu dari wajahmu? Beritahu aku, dan aku akan menghilangkan senyum dari wajahmu, sekali saja. Agar kau marah padaku. Agar kau merajuk. Agar kau selalu ingat denganku. Lihat aku, Laras. Bahkan saat ini akupun ingin hadir dalam ingatanmu, walaupun dalam kenangan terburukmu. 

Dan, aku suka senyummu.

Tak henti-hentinya aku memandangimu malam ini, Laras. Walaupun malam ini kau hanyalah Laras yang hidup di dalam bingkai. Aku cukup bahagia.

Senin, 23 September 2013

Laras: Manusia Bodoh

Laras tak lagi datang malam ini. Padahal aku menunggunya sejaman lebih, namun tak kunjung juga ia menunjukkan wajahnya kepadaku. Entah apa yang terjadi akhir-akhir ini, entah apa yang sedang ia lakukan, aku tak tau. Aku hanya terus menunggunya.

Dia itu wanita yang tak tau apa-apa, tak menarik, tak dewasa, selalu putus asa, meragu, dan segala macam sifat negatifnya yang kutahu mungkin menutupi semua kelebihan yang ada pada dirinya. Namun, entah mengapa, aku menunggunya, lagi dan lagi, seakan-akan buta. Entah apa yang membuat aku berkeras hati menunggunya, aku tak tau. Aku hanya terus menunggunya.

Mungkin, aku yang terlalu keras kepala. Mungkin juga, aku yang bodoh. Dan mungkin juga, aku yang terlalu lugu.

Laras. Aku tau siapa dia. Dia itu monster. Aku sadar betul betapa iblisnya dia. Dia yang tak peduli bagaimana aku, dia yang selalu membuat aku melambung kemudian terhempas sampai mati rasa. Dia yang kejam dan brutal terhadap perasaanku. Sungguh, aku ingin berlari darinya. Namun, ada satu bagian dalam diriku yang membuat aku terus bertahan. Bertahan untuk disakiti, lagi. Dan herannya, tak kunjung jua ku temukan batas muakku.

Manusia bodoh. Aku tak percaya ada manusia bodoh di atas dunia ini. Manusia bodoh hanya ungkapan yang diberikan oleh orang-orang yang merasa orang lain bodoh. Ungkapan yang berasal dari orang lain. Sungguh aku tidak peduli bagaimana ungkapan dari orang lain sedikitpun. Namun, jika ada orang yang menganggap dirinya sendiri bodoh, maka dia hanya sekedar hilang akal, tidak tau lagi apa yang harus dilakukannya, dan untuk memuaskan otak karena tak tau jawaban dari 'apakah yang menyebabkan semua permasalahan ini terjadi?' dan kemudian mereka menjudge mereka sendiri bodoh. Intinya, ungkapan 'aku ini manusia bodoh' hanya ungkapan sementara. Hanya sebuah kamuflase. Sebuah mekanisme pertahanan diri.

Dan iya, saat aku tidak berada di dekat Laras, dan saat-saat aku menunggunya inilah otakku berkata bahwa aku manusia bodoh. Dan, aku sadar betul aku tidak bodoh. Kau tau, ini hanya kamuflase saja. Aku hanya belum menemukan jawaban yang sebenarnya tentang mengapa aku terus menunggunya. Kenapa aku selalu menaruh harapan besar pada iblis seperti dia. Kenapa aku selalu tergantung pada monster yang akan menggerogoti tubuh dan jiwaku dari dalam, dan mungkin akan terus begitu sampai aku lumpuh. Aku hanya terus menunggunya. Itu saja yang aku lakukan. Dan itu bodoh menurutku. Untuk saat ini.

Bercerita tentang Laras bagiku tak akan ada habisnya. Dia tak peduli sedikitpun tentang orang lain. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia akan melakukan apapun dengan siapapun. Selagi itu menguntungkan dan menyenangkan baginya, maka ia akan terus menerus berbuat seperti itu, sampai bosan, dan setelah bosan, maka ia akan kembali mencari rutinitas baru dengan seseorang yang baru, yang menguntungkan dan menyenangkan baginya. Dan dia, selalu mendapatkan sesuatu dan seseorang itu. Seakan-akan tuhan tidak menyiapkan sebuah karma baginya. Seakan-akan tingkahnya seperti itu dihalalkan di muka bumi.

Dan tentunya, tidak seorangpun yang akan merasa kalau Laras akan memanfaatkan dirinya sendiri karena Laras sangat pandai memainkan perannya. Laras bermain dengan sangat halus sehingga tak seorangpun yang akan sadar telah dimanfaatkan. Laras akan menutupi kebohongan yang satu dengan yang lainnya demi perannya tersebut. Dia, aktor antagonis dunia nyata yang tak kan terkalahkan. Aku belum menemukan orang yang bisa menyaingi kemampuan akting Laras. Dan hei! aku sadar aku dipermainkan. Tapi otakku untuk sementara ini bilang, aku ini manusia bodoh. Itu saja untuk kali ini.

Senin, 26 Agustus 2013

Flash Fiction: Tentang Si Manusia Malam


Sekalipun pertemuan sore itu masih membayang di selusur ingatanku, aku masih lupa, atau barangkali samar-samar, untuk mengingat detail dirinya, bagaimana betul raut wajahnya. Yang kuingat hanya suasana pada sore itu. Karena ketika kami bertemu, hampir tak pernah aku menatap wajahnya secara langsung. Bagaimana bisa aku membuang sepersekian kesempatan yang diberikan waktu padaku untuk menikmati sore dengan menatapnya lekat-lekat, agar, yang kuingat sekarang bukan hanya suasana, tetapi juga orang itu.

Perlahan, aku memejamkan mata. Entah bagaimana drama ini akan berakhir. Entah kepada siapa hati ini tertuju, aku masih tidak mengerti. Bagaimana mungkin aku menjadi penghianat pada beberapa orang yang sudah begitu baik kepadaku.

Telah dua hari ini ia tak lagi biasa. Ia, manusia yang tak mau bertatap muka pada pagi dan matahari, selalu bersedia bertemu denganku saat malam. Dan dua hari ini tak lagi biasa. Apakah karena ia membenci pagi dan aku manusia penatap pagi kemudian ia juga menjadi membenciku?

Malam tadi, aku juga menunggunya, seperti malam-malam yang lalu. Tiga puluh menit, enam puluh menit, aku memicingkan mata menunggunya datang. Satu jam, dua jam, tiga jam, dan aku terlelap. Dan terjaga pada terangnya sinar matahari yang menyeruak masuk melalui celah jendela.

Di bawah matahari, kemudian aku mengawasi dirinya. Aku tahu kemungkinan bertemu dengannya pada saat terang ini adalah nol. Itulah mengapa, aku menganggap diriku menyia-nyiakan kesempatan yang datang pada saat senja itu. Dan aku tetap mengawasinya, menunggu si hantu malam itu khilaf dan keluar dari persembunyian, sembari aku berkhianat pada hati yang lain.

Pada malam berikutnya, aku dan dia akhirnya bertemu. Sebelum aku mengucapkan sepatah kata pun, tiba-tiba ia berucap, “Aku tak bisa menunggu orang yang tak tau kepada siapa ia memilih. Maka jangan lagi hidup pada malam, dan terjagalah pada pagi agar kita tak bertemu!”

Saat itu ada purnama. Indah. Aku tetap terjaga. Malam ini, aku akan melihatnya sendirian. Sendirian.

Rabu, 31 Juli 2013

Flash Fiction - Ironi

"Apa salahnya berteman dengan bencong?!" keluhku pada Ibu yang sedari tadi mengguruiku dengan berbagai macam ultimatum. Aku tak lagi boleh berdekatan dengan teman dekatku. Kata beliau, ia hanya akan membawa kesan negatif pada diriku sendiri. Hanya akan membuat malu diri sendiri di depan masyarakat.

"Saya cuman tidak ingin kamu malu nantinya! Apa kata orang-orang kalau setiap hari kamu duduk berdua dengan banci itu, tertawa-tawa entah apa yang ditertawakan. Kalian terlalu dekat!" suara Ibu mulai bergetar. Dan saya yakin sebentar lagi beliau mulai menangis. Dan seiring dengan keluarnya air mata Ibu, praktis saya akan dianggap durhaka. Tapi beliau memang sensitif. Salahkah saya untuk tidak peduli?

"Orang-orang aja gak tau apa yang saya bicarakan dengan dia, kalau mereka kemudian malah menuduh saya yang bukan-bukan atas dasar apa yang tidak mereka ketahui, kenapa saya harus mendengarkan mereka?" ujar saya melengos.

"Jadi kamu lebih peduli dengan banci itu daripada perkataan orangtuamu ini?" Ibu. Menangis. Saya durhaka.

"Bukan itu permasalahannya. Dia itu teman saya dan dia sedang membutuhkan saya sebagai temannya! Saya lebih memilih teman daripada harus mendengarkan setiap perkataan orang-orang yang bisanya menuduh saya yang bukan-bukan. Mereka tidak tau bagaimana saya, dan kenapa juga saya harus mendengarkan apapun perkataan mereka? Haruskah saya mendengarkan dan memenuhi keinginan setiap orang-orang yang selalu bergunjing atas apa yang tidak mereka ketahui tentang saya? Orang-orang yang hanya menilai saya dari apa yang mereka raba-raba?"

"Pokoknya sekali lagi saya melihat banci itu datang ke rumah ini lagi, saya yang akan turun tangan untuk mengusir dia dari sini!"

"Apakah karena dia berbeda dengan yang lain terus kita ini lebih baik daripada dia? Apa kita ini termasuk golongan yang lebih terhormat daripada dia? Apa ibu pikir saya ini normal? Banyak hal yang lebih berharga dan lebih penting untuk dilihat dan dinilai. Penampilan luar, harta, kekayaan, jabatan, kita semua buta dengan itu. Buta! Tuhan saja tidak pernah membeda-bedakan makhluk!"

Sebuah cerocos yang tidak akan didengarkan. Saya terduduk lemas. Sangat lemas sekali karena pengeluaran emosi ini sungguh-sungguh menguras tenaga. Saya benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana. Haruskah saya mengacuhkan teman yang begitu baik pada saya hanya demi memuaskan penilaian orang-orang tentang pribadi saya? Sepenting itukah pencitraan walaupun menipu diri dan hati sendiri? Bukankah itu yang dinamakan munafik? Bukannya itu bertentangan dengan apa yang dituliskan dalam buku PPKN tingkat SD?

Saya mengalah. Sungguh saya tidak mau durhaka karena mengacuhkan perintah orangtua. Sudah beberapa minggu ini saya mengacuhkan si teman. Dan selamat kepada orang-orang penilai yang bernama masyarakat, berterima kasihlah pada saya karena saya telah memuaskan keinginan kalian semua!

Akhir-akhir ini orang tua saya kembali tenang. Bahagia melihat anaknya mengajak seorang teman ke rumah. Seorang wanita berparas cantik, ramah, dan hangat. Tidak banci, tidak kelihatan tidak normal, dan tentunya, membawa citra yang positif untuk anaknya. Bukankah sebentar lagi anaknya akan dibilang supel dan pandai bergaul? Apalagi temannya ini memiliki nilai plus, bahkan jika orang-orang tersebut melihat kami dengan menyipitkan mata mereka, tidak akan masalah, tidak akan ada citra yang buruk!
Si orangtua menghela nafas lega.

...

Di beranda, dua orang wanita bercakap.
"Akhirnya aku bisa juga ke rumah kamu, yang.."
"Kan udah aku bilang, aku bakal ngajak kamu, ngenalin kamu sama orang tua aku"
"Aku khawatir mereka gak suka hubungan kita.."
"Aku jamin gak akan ada masalah. Mereka bakal suka,"
"Hihi.. keluarga kamu aneh.. Tapi aku bahagia. Makasih ya sayang.."
Dan mereka berpelukan mesra.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails