Tampilkan postingan dengan label movies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label movies. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Januari 2013

Movie Characters I Like but Not to Date

Saya suka mereka karena mereka GILA, dan bikin saya ketagihan untuk ketawa liatin tingkah polah mereka yang jauh dari welas asih dan kenormalan manusia rata-rata.

1. Alan Garner (Hangover)



astaga si gendut yang jenius saking jeniusnya sampai gak normal. saya suka karakter Zach Galifianakis di film ini, kenapa ketika ada Bradley Cooper sangat tampan saya malah lebih napsu melirik ke bocah berjanggut gendut ini, hal tersebut sampai sekarang menjadi misteri ilahi. mungkin karena dia berbeda dari yang lain atau gaya bicaranya dan kata-katanya yang diluar dugaan atau malah polos cenderung ke vulgar. entahlah. 





2. Leslie Chow (Hangover)



ini juga Mr.Chow, om om mafia cina mesum yang juga sama gilanya dengan Alan Garner. Tapi sungguh tak disangka tak dinyana ternyata Ken Jeong yang memerankan Leslie Chow ini adalah seorang dokter di Amerika. *facepalm*














apalagi kalau mereka berdua pas satu scene bahahahaha ternyata ada ya kombinasi yang kayak gini. bocah idiot + om-om mesum =


Leslie Chow menikmati keidiotan Alan Garner :D



ini adegan Hangover 2, ketika semua orang cemas memikirkan Teddy yang hilang, mereka berdua malah BERNYANYI!! dan MERDU pemirsah.

di Hangover 1, mereka juga punya percakapan paling idiot menurut saya :D :
Mr. Chow: You gonna fuck on me?
Alan Garner: Nobody's gonna fuck on you! I'm on your side! I hate Godzilla! I hate him too! I hate him! He destroys cities! *Please*! This isn't your fault. I'll get you some pants. 
wahahahaha ini adegan ketika Alan ketakutan diserang Mr.Chow telanjang :D

3. Bobby Pellit (Horrible Bosses)
kalau yang ini tokohnya antagonis dan mengesalkan. tapi saya suka akting Collin Farrell di sini. berhasil memerankan anak bos yang manja yang suka senang-senang, ngedrugs, seks bebas, dan yang paling saya suka pas adegan dia ngacak-ngacak manajemen perusahaan, memecat orang sembarangan, dan cara-cara bodoh dia dalam mengambil keputusan di perusahaan yang menguntungkan dirinya sendiri :D
ini adegan dia berdua Kurt Buckman, bawahannya:

Bobby Pellitt: You know what, I don't hear you giving... dickskin any shit.
Kurt Buckman: Dickskin? Nice.
Bobby Pellitt: Kiss ass.
Jack Pellit: Come on, come on.
Bobby Pellitt: Yeah, go on, in you go. Go on Gay boy!
Kurt Buckman: I'm not gay!
Bobby Pellitt: Please. I've seen gay boys. You're one of them.
Kurt Buckman: Yeah, where'd you see them.
Bobby Pellitt: In your house! Get in! I'm a green belt, motherfucker! 


ketiga tokoh di atas persamaannya adalah, kata-kata lawakan mereka sangat segar dan lebih berbobot dan gak garing. di sela-sela lawakannya itu ada "isinya" gak cuma ngelawak doang. memang asli bikin ketawa ngakak. beda kalo liat pelawak dari Indonesia yang lawakannya cuma dorong-dorongin orang sampai terjatuh atau tiba-tiba menumpahkan bedak atau tepung ke kepala orang, emangnya dimana letak kelucuannya? 
mereka sangat berhasil memerankan tokoh-tokoh di film tersebut. salut buat mereka :D 

The Perks of Being a Wallflower

Definisi Wallflower dari Wikipedia :  a slang term used to describe shy or unpopular individuals who do not socialize or participate in activities at social events. It is most often used to describe someone who stays close to a wall and out of the main area of social activity.




Di awal film ini tiba-tiba saya dicurhati oleh Charlie tentang pengalaman masa lalunya. Menjadi seorang nerd sama sekali bukan keinginan Charlie, itu bisa saya liat dari usaha Charlie mendekati Sam dan Patrick, yang ternyata juga sangat welcome padanya. Dan dari usahanya itulah, Charlie sedikit demi sedikit memberikan kesempatan untuk dirinya sendiri keluar perlahan dari dunianya yang introvert.
Ketika melihat film ini saya merasa bersyukur tidak menjadi introvert di luar negeri. haha.. untung hanya di Indonesia, karena di luar negeri, seorang nerd selalu menjadi sasaran bullying. Kalau di Indonesia mah, orang introvert dibilang sombong karena jarang ngumpul bersama orang-orang, hahahaha.. levelnya jauh lebih tinggi dari yang di luar negeri :DMelihat kehidupan Charlie saya seperti melihat kehidupan saya sendiri, mulai dari sifatnya, sampai ke trauma masa kecilnya. Saya juga mengiyakan setiap plot dimana Charlie selalu membiarkan orang bahagia tanpa mengacuhkan perasaan pribadinya. Saya juga cenderung hanya memperhatikan dan membiarkan orang lain melakukan apa-apa saja yang mereka ingin lakukan, walaupun saya tidak setuju mereka melakukan itu. Alasannya sederhana saja, saya tidak ingin mereka meninggalkan saya hanya karena saya tidak sependapat dengan mereka. Saya selalu takut disisihkan. Takut ditinggal sendiri oleh orang-orang yang telah berhasil saya dekati.Di film itu saya juga suka sama tokoh Patrick. Siapa sangka dibalik keceriaannya Patrick memiliki kehidupan homoseksual dengan cowok populer di sekolah. Hal tersebut menjadi beban baginya karena harus selalu menyembunyikan kisah terlarangnya, belum lagi hal tersebut adalah skandal besar bagi Brad, mengingat dirinya adalah cowok keren atlit sekolahan yang selalu disegani orang-orang. Awalnya saya menduga-duga Patrick ini tokoh antagonis dalam cerita karena yang memainkannya adalah Ezra Miller, seorang anak imbisil menyebalkan dalam film We Need to Talk About Kevin yang belum lama saya tonton. Haha saya sangat suka aktingnya dalam film itu. Di film The Perks of Being a Wallflower ini juga, he is my new idol!
Tak peduli apakah kamu introvert atau tidak, punya teman itu adalah sebuah kebutuhan. karena saat kamu berada di antara teman-teman, "I can see it, this one moment when you know you're not a sad story. You are alive!" ujar Charlie. Dan lagi-lagi saya ngangguk-ngangguk mengiyakan.

*oh iya, sebelumnya saya gak nyadar, ternyata film ini settingnya tahun 90an :)*Ketika menulis ini sejenak saya terpana melihat orang yang saya panggil Papa tiba-tiba mencampurkan nasi ke kolak ubi yang beliau makan. "Lamak, ji.. Cubolah..," ujarnya sambil menyuap makanan yang tiba-tiba berubah menjadi nasi sup kolak.

Sabtu, 10 Desember 2011

Kendalikan "Perut" mu! :D


Pernah nonton Cloudy Meatballs? 


Film 3D yang menceritakan tentang Flint, seorang ilmuwan dan penemu berbakat amatir yang tidak diakui kehebatannya oleh orang-orang sekampung. Pertemuan pertamanya yaitu semacam sepatu semprot instan yang kemudian gagal karena setelah bahan tersebut disemprotkan dan membentuk sepatu, “sepatu instan” tersebut malah tidak bisa lepas dari kakinya. 
Tapi kemudian ia berhasil membuat sesuatu yang luar biasa, mesin pembuat makanan otomatis! Tinggal masukan kode makanan, kemudian air ke mesin, dan voila! Makanan yang kamu harapkan keluar dari bawah mesin. 
Ide itu dia dapatkan ketika ia melihat bahwa kota tempat ia tinggal menderita kekurangan makanan dan hanya makan ikan sarden setiap harinya. Tapi awalnya memang mesin itu kurang bekerja dengan baik karena kurangnya asupan (?) listrik. Maka dari itu Flint ke kota untuk mencari sumber listrik yang lebih besar agar mesin temuannya dapat berfungsi baik. Kota yang ketika itu sedang ramai karena adanya acara peresmian taman bermain sarden oleh walikota menjadi kacau balau karena ketika mesin Flint dihubungkan dengan gardu listrik kota membuat mesinnya terbang ke angkasa dan membuat kekacauan di seluruh kota.
Flint yang putus asa kemudian bersembunyi dari amukan warga kotanya di dermaga bersama steve, monyet yang bisa bicara peliharaannya, dan disitulah ia bertemu Sam, cewek reporter ramalah cuaca. Disanalah mereka menyaksikan tiba-tiba ada gumpalan awan warna ungu serta hujan burger!




Berawal dari situ, orang-orang mulai menyanjungnya dan bahkan meminta Flint untuk membuatkan makanan kesukaan mereka agar turun dari langit. Namun di mesin itu ada sebuah alat bernama Dangeometer. Semakin sering digunakan, maka semakin bahaya. Bahaya disini, ukuran makanannya menjadi lebih besar dari yang biasanya. Dan itulah yang terjadi. Semakin banyak orang yang memanfaatkan penemuan Flint, terutama walikota yang secara terang-terangan mengambil untung dari mesin tersebut. Tapi hal tersebut tidak dipermasalahkan karena warga menyukai penemuannya dan dia diakui.




Nah, masalah pun datang, hujan makanan dalam ukuran yang sangaaaaat besar datang menyerbu! Film ini memang berusaha menunjukkan pada kita bahwa jika kita melakukan sebuah hal yang berlebihan, maka hasilnya tidak akan pernah baik. Kendalikan nafsu! kalau tidak bisa berantakan jadinya. 


Dan tebakan saya pada pertengahan film mengenai hujan makanan dalam jumlah dan ukuran besar itu bisa dihentikan dengan cairan sepatu instan itu ternyata terbukti di akhir film. Shishishishishi...
Saya pikir ide yang sangat menarik sekali. Maksud saya mengenai hujan makanan dan ah... ada mesin pembuat makanan dengan bahan AIR! Di awal cerita kita memang dirasuki pikiran oh.. andaikan mesin itu ada di sini... tapi di akhir film,akhirnya saya sadar bahwa  lebih baik tidak ada mesin itu di dekat saya karena akan membuat berat badan saya tambah naik, ceman-ceman. Lebih baik tidak.  -_-

Rabu, 15 Desember 2010

AMERICAN BEAUTY, (Jangan Lihat Vulgarnya, Lihat Nilai Moralnya!)


AMERICAN BEAUTY adalah sebuah film tentang kekecewaan terhadap keadaan yang ada, dan sebuah efek dari ketidaknyamanan kehidupan, sebuah emosi yang selalu ditekan, sebuah film yang menyadarkan kita tentang pentingnya rasa saling mengerti satu sama lain. Di film tersebut ditunjukkan bagaimana orang-orang hidup dengan situasi yang selalu tertekan, orang-orang yang hidup dengan keinginan yang tidak terpuaskan, serta tentang kehidupan orang-orang yang terlalu banyak dipenuhi oleh peraturan-peraturan, sehingga orang-orang dalam film tersebut merasa kehilangan kebebasan. Hingga akhirnya, mereka berusaha menemukan kebebasan itu "di tempat lain".

LESTRE BURNHAM
Seorang pegawai yang baru saja dipecat dari pekerjaannya. Hidupnya selalu direndahkan oleh sang istri, Caroline Burnham, yang notabene mempunyai penghasilan yang lebih besar dari dirinya. Hal tersebut membuatnya sangat tidak berdaya dan selalu mentaati peraturan yang dibuat sang istri di dalam rumahnya. Hal tersebut ternyata juga berpengaruh pada masalah seks mereka dimana Lestre tidak pernah lagi mencumbui istrinya yang disebabkan karena kesenjangan yang terjadi. Ia juga selalu dilecehkan oleh istrinya tersebut di depan anak mereka sendiri, Jane Burnham, hingga sang anak menganggap dirinya adalah sosok ayah yang tidak becus, tidak bertanggung jawab dan pengecut. Itulah alasannya kenapa Lestre tidak lagi akrab dengan Jane. Lestre yang merasa selalu tertekan oleh keadaan dan merasa kehilangan kebebasan, hingga ia benar-benar muak. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Angela Hayes, teman Jane, yang cantik dan sangat mempesona bagi Lestre. Karena kebebasan yang tak kunjung ia dapatkan tersebut didukung dengan faktor seks yang berjalan tidak lancar, perlahan Lestre mulai merasakan jatuh cinta pada Angela. Pada saat itulah ia mulai giat memperbesar otot-ototnya --ia berpikir remaja cewek akan tertarik pada pria yang mempunyai otot yang besar-- serta mengkonsumsi ganja yang dibelinya dari seorang tetangga barunya, Ricky,  kekasih Jane.

CAROLINE BURNHAM
Istri dari Lestre yang bekerja sebagai agen real estate ini selalu merasa suaminya tidak mampu membiayai kehidupan mereka. Gajinya yang lebih besar dari Lestre membuat ia merasa bahwa ia lah yang berperan penting dalam mengurusi keuangan keluarga. Ia menganggap Lestre tidak ada apa-apanya dengan dirinya. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya rasa saling mencintai dan rasa tertarik satu sama lain, dan berimbas pada ketidakharmonisan keluarga mereka (dimana dalam film ini ditunjukkan melalui orientasi seksual mereka). Ketidakpuasan terhadap suaminya tersebut membuatnya mencari kepuasan di tempat lain, yaitu Buddy Kane, the king of real estate yang kaya.

JANE BURNHAM
Seorang anak sekolah menengah atas yang hidup dengan kedua orangtua yang selalu tidak akur dan hanya memikirkan pekerjaan, yang menyebabkan ia tidak lagi diperhatikan. Dilingkungan sekolahnya ia selalu dianggap anak aneh dengan kepribadian yang apatis dan sensitif. Berteman dengan Angela Haye, perempuan cantik yang selalu dianggap paling sempurna disekolahnya, terkadang membuatnya merasa tertekan. Ia merasa jelek dan tidak ada apa-apanya dibandingkan Angela. Rasa tertekannya tersebut berimbas pada keinginannya untuk mengoperasi plastik payudaranya. Sampailah ia bertemu dengan Ricky, tetangga barunya yang selalu merekam segala aktivitas Jane melalui jendela kamarnya. 

RICKY FITTS
Tetangga baru keluarga Burnham yang dididik oleh ayahnya, Colonel Fitts dengan gaya militer. Ricky tak sedikitpun merasakan kasih sayang dari ayahnya. Ayahnya memperlakukan dia layaknya seorang prajurit militer, bukan seperti seorang anak kandung. Ricky pun dicekoki beragam peraturan ala militer yang tak langsung mengekang setiap kebebasannya, dan setiap keinginan yang ada dalam dirinya dan mengakibatkannya merasakan kesepian. Hal itulah yang menyebabkan kenapa ia sering merekam setiap kejadian-kejadian kecil di sekitarnya. Ia menganggap seluruh kejadian-kejadian di dunia ini adalah salah satu kebebasan dan wujud dari keindahan. Ia hidup dengan objek yang menari di camera digitalnya. Ricky yang tidak merasakan kepuasan dan kasih sayang tersebut pun juga mencoba mencari kepuasan dengan cara yang lain seperti memakai ganja dan mengedarkannya, salah satunya kepada Lestre Burnham.

COLONEL FRANK FITTS
Selalu hidup dengan kekakuan ala militer, serta bersikap otoriter kepada keluarganya. Memang, bisa dikatakan ia hidup dengan gaya yang seperti itu, namun didalam hatinya ada sebuah rasa ketidakbebasan yang bersembunyi. Terakhir kali ia mendapati anaknya Ricky bergaul dengan Lestre Burnham dan menganggap Ricky mempunyai hubungan khusus dengan tetangganyha itu, alias Homo. Padahal, ketika itu Ricky hendak menjual ganjanya kepada Lestre. 

BARBARA FITTS
Ibu dari Ricky ini terjebak diantara kehidupan suaminya yang otoriter, dan sikap anaknya yang introvert akibat didikan dari suaminya. Dalam film ini ditunjukkan bahwa Barbara adalah sosok yang dingin dan pendiam. 

ANGELA HAYE
Teman dekat Jane Burnham ini selalu ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa ia cantik dan menarik. Hal itulah yang membuat ia mendekati Jane, seorang gadis aneh dengan penampilan yang tidak menarik agar ia merasa lebih baik dan lebih cantik. Ia tau bahwa ia sama sekali tidak menarik. Ia merasa ia butuh dipuji. Maka ketika Ricky mengatakan padanya bahwa ia sama sekali tidak menarik dan hanya seorang gadis biasa, Angela frustasi dan berusaha mendekati Lestre (ia tau bahwa ayah dari temannyaitu sangat tergila-gila padanya) untuk mendapatkan pengakuan bahwa ia layak dipuji, cantik, dan disukai oleh banyak orang. 

Film ini mengajarkan kita tentang arti dari kehidupan, bahwa kita hidup didunia dengan saling menghargai satu sama lain. Tidak ada satu orang pun yang berhak mengatur kehidupan orang lain. Dengan adanya rasa saling menghargai, maka orang-orang pun akan lebih bersikap terbuka pada kita. Tidak ada satu orang manusia pun yang hidup di muka bumi ini yang ingin kehidupannya diatur dan selalu dibawah tekanan. Orang bebas melakukan apa yang mereka mau, kemana kaki mereka melangkah, dan tujuan apa yang hendak mereka raih. Semua ada batasnya, dimana seseorang boleh mempertahankan hak-hak yang dimilikinya. Tidak semua hal di dunia ini yang sesuai dengan keinginan kita, maka belajarlah untuk ikhlas menerima apa-apa yang kita punya.

Look Closer!

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails