Tampilkan postingan dengan label I say.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label I say.... Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

Pilihan

Pilih mana, kue yang bentuknya menarik dan bagus tapi rasanya gak enak, atau kue yang bentuknya gak menarik dan gak bagus tapi rasanya udah kayak makanan standar internasional?

Mungkin memang benar, semua orang akan tertarik pada penampilan luar si kue sebelum mencicipi rasanya. Dan mungkin memang benar, jika penampilan kue tersebut terlihat seperti eek taik kucing, orang-orang bakalan mundur duluan sebelum mencicipi rasa luar biasanya. Tapi coba dipikir lagi lebih dalam, rugikah kita jika hanya melihat sesuatu dari luarnya saja? Iya! 

Mungkin penampilan kue yang menarik juga akan menarik orang untuk mencicipinya, walaupun rasanya gak enak. Tapi, sampai dimana sensasi itu ada? Sampai gigitan pertama? Bisa jadi! Dan kemudian orang-orang lain akan mengetahui kalo kue yang menarik yang berada di toples itu gak enak. Mungkin juga penampilan kue yang gak menarik bikin orang urung untuk mencicipinya. Tapi, sampai kapan kita selalu beranggapan kalau semua yang memiliki tampilan luar yang jelek itu 'jelek'? Sampai kapan kita hanya terlena dengan tampilan luar, dan tidak memperhatikan esensi yang ada di dalam luaran yang jelek itu? Sampai kapan kita hanya berpikiran dangkal? Sampai kapan kita (lagi-lagi) berpikir dan menilai setengah-setengah? Tampilan luar hanya dinikmati oleh mata. Sedangkan inner dinikmati oleh hati.

Kita beneran gak bisa menilai orang hanya dengan mata. Serius.


Senin, 08 April 2013

Semoga (Jangan Terlalu) Cepat Besar.

     Arifah, enam tahun, tiba-tiba bernyanyi, "Dasar kau keong racun.. Baru kenal udah ngajak... tidur," yang ketika pada kata "tidur" gadis kelas 1 SD itu melambatkan suaranya kemudian cengengesan salah tingkah sambil menutup mulut. Saya pikir, wah, si ipah udah tau ya makna dari kalimat "baru kenal udah ngajak tidur. Kalau nggak, nggak mungkin Ipah memelankan suaranya dan cengengesan seperti tadi. Biasanya anak kecil yang belum ngerti apa-apa akan menganggap lalu kata-kata yang belum mereka mengerti dan bersikap biasa. Rasanya baru saja kemaren saya mendengar percakapan lugu Ipah mengenai dialog sinetron Melati untuk Marvel yang diucapkannya begitu saja tanpa ada rasa malu atau apapun, walaupun ada kata-kata seperti "aku cinta kamu, Malvel", "diliku hanya untukmu, Malvel", atau "udah pulang sayang, ini makan malam kamu". Sungguh begitu dahsyatnya pergaulan anak SD kelas 1 jaman sekarang.
     Tak hanya adik kecil saya, tetangga samping rumah, Gandung, kelas enam SD, juga melakukan tindakan yang menurut saya sudah melewati batas wajar kelakuan anak-anak. Seminggu kemaren komplek perumahan gempar gara-gara berita penculikan Gandung. Katanya, kejadiannya sewaktu ia pulang sekolah sendirian, ketika melewati jalanan sepi, tiba-tiba ada sebuah motor dengan dua orang pria berhenti di sampingnya dan menawarkan permen. Kemudian katanya dia menolak, namun tiba-tiba si pria yang satu menarik tangan Gandung ke belakang, yang satunya memegang mulut dan memasukkan permen dengan paksa ke mulut bocah itu. Teler, kemudian ia dinaikkan ke motor, dan dibawa ke jalanan yang bukan ke  arah rumahnya. Lalu setelah tersadar katanya ia dikembalikan ke sekolahnya dengan keadaan rambut yang tampak baru dipotong, dengan serpihan rambut yang menempel di baju seragam putihnya. Itu pengakuan Gandung. Sesampainya di rumah, jelas Bapaknya kaget karena rambut anaknya yang baru saja dipangkas rapi sehari yang lalu tiba-tiba menjadi urakan seperti ini. Belum lagi anaknya tiba-tiba kayak orang mabuk dan jalan sempoyongan. Setelah mendengar pengakuan anaknya, bapak dan ibunya kaget luar biasa. Berita ini pun dengan cepat menyebar dan kasusnya pun sudah sampai di kepolisian.
     Siapa sangka kasus yang menggegerkan satu komplek itu, ternyata hanya berawal dari kebohongan anak kelas 6 SD yang takut ketahuan bapaknya, kalau di sekolah, ia meminta temannya untuk memotong rambutnya agar terlihat seperti pemain bola asal Brazil, Neymar. Cuman ya.. yang motongnya anak kecil, sudah pasti berantakan. Bayangkan betapa hebatnya skenario yang ia susun dan akting mabok dan sempoyongannya di rumah. Mungkin ketika ia besar nanti ia bisa terjun ke dunia infotainment sebagai artis, atau jadi sutradara film. Kebohongan yang seperti itu seharusnya tidak terpikirkan oleh anak seumuran Gandung. Kebohongan seperti itu udah masuk kebohongan level anak SMA. Biasanya kebohongan anak SD itu misalnya, "di sekolah itu, aku paling jago, semua takut sama aku," atau "tadi pas aku ke WC ada suara cewek nangis, hiii...". Entah dari langit mana datangnya skenario dipaksa makan permen yang ternyata adalah obat bius dan kemudian dibawa pergi oleh orang tak dikenal lalu dikembalikan ke sekolah dengan rambut acak-acakan dan di rumah berlagak sempoyongan karena masih ada efek obat bius dari permen tersebut.
     Entah siapa yang harus disalahkan saat ini. Mungkin kita hanya bisa merevisi ulang kata-kata yang kita ucapkan ketika seorang adik berulang tahun, "Semoga jangan terlalu cepat besar ya, dik!".

Kamis, 17 Januari 2013

The Perks of Being a Wallflower

Definisi Wallflower dari Wikipedia :  a slang term used to describe shy or unpopular individuals who do not socialize or participate in activities at social events. It is most often used to describe someone who stays close to a wall and out of the main area of social activity.




Di awal film ini tiba-tiba saya dicurhati oleh Charlie tentang pengalaman masa lalunya. Menjadi seorang nerd sama sekali bukan keinginan Charlie, itu bisa saya liat dari usaha Charlie mendekati Sam dan Patrick, yang ternyata juga sangat welcome padanya. Dan dari usahanya itulah, Charlie sedikit demi sedikit memberikan kesempatan untuk dirinya sendiri keluar perlahan dari dunianya yang introvert.
Ketika melihat film ini saya merasa bersyukur tidak menjadi introvert di luar negeri. haha.. untung hanya di Indonesia, karena di luar negeri, seorang nerd selalu menjadi sasaran bullying. Kalau di Indonesia mah, orang introvert dibilang sombong karena jarang ngumpul bersama orang-orang, hahahaha.. levelnya jauh lebih tinggi dari yang di luar negeri :DMelihat kehidupan Charlie saya seperti melihat kehidupan saya sendiri, mulai dari sifatnya, sampai ke trauma masa kecilnya. Saya juga mengiyakan setiap plot dimana Charlie selalu membiarkan orang bahagia tanpa mengacuhkan perasaan pribadinya. Saya juga cenderung hanya memperhatikan dan membiarkan orang lain melakukan apa-apa saja yang mereka ingin lakukan, walaupun saya tidak setuju mereka melakukan itu. Alasannya sederhana saja, saya tidak ingin mereka meninggalkan saya hanya karena saya tidak sependapat dengan mereka. Saya selalu takut disisihkan. Takut ditinggal sendiri oleh orang-orang yang telah berhasil saya dekati.Di film itu saya juga suka sama tokoh Patrick. Siapa sangka dibalik keceriaannya Patrick memiliki kehidupan homoseksual dengan cowok populer di sekolah. Hal tersebut menjadi beban baginya karena harus selalu menyembunyikan kisah terlarangnya, belum lagi hal tersebut adalah skandal besar bagi Brad, mengingat dirinya adalah cowok keren atlit sekolahan yang selalu disegani orang-orang. Awalnya saya menduga-duga Patrick ini tokoh antagonis dalam cerita karena yang memainkannya adalah Ezra Miller, seorang anak imbisil menyebalkan dalam film We Need to Talk About Kevin yang belum lama saya tonton. Haha saya sangat suka aktingnya dalam film itu. Di film The Perks of Being a Wallflower ini juga, he is my new idol!
Tak peduli apakah kamu introvert atau tidak, punya teman itu adalah sebuah kebutuhan. karena saat kamu berada di antara teman-teman, "I can see it, this one moment when you know you're not a sad story. You are alive!" ujar Charlie. Dan lagi-lagi saya ngangguk-ngangguk mengiyakan.

*oh iya, sebelumnya saya gak nyadar, ternyata film ini settingnya tahun 90an :)*Ketika menulis ini sejenak saya terpana melihat orang yang saya panggil Papa tiba-tiba mencampurkan nasi ke kolak ubi yang beliau makan. "Lamak, ji.. Cubolah..," ujarnya sambil menyuap makanan yang tiba-tiba berubah menjadi nasi sup kolak.

Senin, 24 Desember 2012

Pintu, Roda, dan Pipa.

Berbicara tentang impian dan harapan, saya punya banyak. aku ingin ini aku ingin itu, aku ingin semuanya terwujud semudah mengeluarkan alat doraemon. tapi bukan hidup namanya kalau lurus-lurus aja. jalanan aja gak ada yang lurus dan gak selalu beraspal. lagian jujur saya gak suka jalanan lurus (kayak jalanan by pass di padang). membuat mono dan bosan.jalanan lurus juga gak akan mengembangkan skill nyetir kita. gitu juga hidup. seandainya orang bisa memilih, orang2 pasti memilih jalan kehidupan yang mulus-mulus saja. lurus kayak jalanan di by pass. urusan pendidikan lancar, urusan karir lancar, urusan asmara cinta-cintaan lancar. tapi adakah yang seperti itu? barangkali ada, barangkali memang ada orang yang memiliki tingkat keberuntungan tinggi seperti itu. tapi saya percaya tidak ada. hidup ini kayak roda, kan? ada saatnya kita di atas, ada saatnya kita di bawah. ada satu pintu yang bisa kita masuki dengan lancar, ada juga pintu yang untuk membukanya kita harus mencari kunci dulu, membuka paku-paku yang terpancang di kayu-kayu yang menghalangi pintu, atau bahkan mendobrak sekuat tenaga. dan jangan dulu bersenang diri jika pintu yang kamu dapat adalah pintu yang berhiaskan emas mengkilap dengan batu-batuan mulia berjejer di gagang pintunya, dan tidak terkunci. dan jangan sedih dan putus asa juga jika pintu yang ada di hadapan kamu adalah pintu setebal 10 senti dengan 20 gembok mengunci serta kayu-kayu yang saling silang menghalangi pintu. plus, tumbuhan merambat yang hampir menutupi permukaan pintu. karena siapa tau di dalamnya bak istana megah dengan hiasan-hiasan ala rumah raja-raja, penuh makanan dan buah-buahan surga. bukankah orang-orang yang lebih banyak berusaha nantinya akan mendapatkan hasil yang luar biasa baik pula? jika hidup kamu bermasalah, maka berbahagialah. hidup tanpa masalah, gak akan menjadikan kita kuat. hidup ini, mustahil tanpa resiko. hidup ini, mustahil ada yang lurus-lurus aja. kayak pipa air, jika kita membuka keran yang satu, keran yang lainnya akan mengeluarkan air lebih sedikit. ada hal yang dimudahkan, ada hal yang ditunda kemudahannya. setiap orang sudah ada bagiannya masing-masing. berbahagialah untuk seluruh resiko dari pilihan yang kamu ambil. dari situ, kamu bisa kuat, dan lebih mampu bertahan dibandingkan orang dengan pintu yang mahal dan gampang dibuka. hidup tidak segampang mengeluarkan alat doraemon.

Minggu, 18 November 2012

Hal-hal yang Terjadi Dalam Rapat

Siapa bilang rapat itu gak asik dan membosankan? Semuanya tergantung dari cara kita menyikapinya aja kok. Kalo pas rapat dibawa serius terus dan monoton, sudah pasti bosan. Tapi jangan juga dibawa bercanda, gak selesai-selesai ntar rapatnya. Tadi saya ikutan rapat pra Pekan Jurnalistik Genta Andalas dengan sangat menyenangkan. Padahal banyak yang masih perlu dipersiapkan untuk acara besok paginya. Karena kebiasaan masing-masing orang saat rapat tadi, saya menyimpulkan ada 4 kelompok tipe peserta rapat.
Pertama, kelompok orang yang seriusan. Yang ikutan kelompok ini biasanya yaitu ketua acara, serta ketua koor per divisi, ditambah dengan orang-orang perfeksionis yang selalu melontarkan kritikan dan saran. Kedua, kelompok timun (atau kelompok pelengkap. Timun kan biasanya jadi pelengkap dalam nasi goreng atau bihun goreng :p). Yang ikutan kelompok ini biasanya yaitu anggota-anggota per divisi yang gak perlu bicara lagi karena udah ada koor divisi, serta orang-orang yang gak ambil pusing dan cuek, ditambah dengan orang yang peduli yang mau memberi saran serta masukan tetapi malu untuk mengungkapkannya. Mungkin mulutnya berjigong serta menimbulkan bau mulut dan enggan untuk berbicara, dan kemudian mereka bersikap cool untuk menutupi masalah bau mulut mereka. Ketiga kelompok sari roti (alias tukang ribut. gerobak sari roti yang sering mangkal di depan rumah terus-terusan hidupin jingle "sari roti roti sari roti... sari roti roti sari roti..." begitu seterusnya sampai akhir jaman). yang masuk ke kelompok ini yaitu orang-orang yang selalu mencemeeh dan membahas yang bukan dibahas di dalam rapat. jenis orang-orang ini dipelopori oleh tayangan infotainment dan menular kepada kelompok sari roti dalam bentuk gosipan bisik-bisik yang kedengaran. Keempat kelompok orang kreatif yang tak didengar. Jenis ini yaitu kelompok yang selalu memberikan masukan dan saran serta solusi yang cerdas cendikia dengan alur pikiran yang tak terduga nan fantastis serta efisien namun sayang seribu kali sayang tidak didengarkan sama sekali. Dalam rapat tadi, yang termasuk kelompok keempat yaitu Andri, Bang Cep, dan saya sendiri si qana'ah Meta Orlanda Pierce.
Permasalahan yang paling alot serta yang paling konyol untuk dialotkan yaitu tentang "Siapakah yang akan memotong pita pembukaan acara?". Bayangkan hal itu saja bisa diributkan, mungkin saking banyaknya orang penting yang mengadiri pembukaan acara jadi rebutan siapa yang mau motongin pita. Kelompok KOKYTD menyarankan agar orang2 penting itu dibagi-bagi aja pita yang mau dipotongnya. Misalnya, pak walikota, motong sepertiga, trus pembina UKM sepertiga lagi, dan kemudian orang dari sponsor sepertiga lagi. Kan semuanya sama rata dan adil sesuai dengan pancasila sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Tapi usulan nan efektif dan efisien serta mumpuni tersebut tidak didengar. 
Kemudian kami mengusulkan agar tali tersebut ditukar dengan tali tambang saja dan dipotong dengan menggunakan sinsaw. Masing-masing juga mendapatkan bagian. Orang sponsor dapat bagian ngisi minyak ke mesin sinsaw, pembina yang narik tuas sinsaw, dan pak walikota yang motongin tambang. Dan lagi-lagi gak didengar. Sungguh rugi gak ngikutin saran bombastis kitah kitah. Bayangkan kalo kita motong tali tambang pake sinsaw di pembukaan acara, pasti acara dan UKPM kita tambah terkenal dan jadi pembicaraan kayak
Britniy: "Eh tau gak si loh, pembukaan pekan jurnalistik UKPM Genta keren dan cadass abis.. beda dari yang lain!"
Justin: "Ak macacih macacih aku mau liat dong ntar acaranya, pembukaan aja udah heboh apalagi acaranya, cetar beudthshs pasti!"  
 Karena sudah berkali kali ditolak, ide kami semakin liar gemerlapan seperti:
  1. Peresmian dengan memotong pita diganti dengan memecahkan pot dari tanah liat yang biasa digunakan untuk peresmian gedung-gedung dengan kepala bang nandes sebagai sasaran pemecahan pot.
  2. Peresmian dengan memotong pita diganti dengan menyunat salah satu anak. Caranya gampang, baringkan si anak di depan para tamu dan undangan, dan masing-masing pimpinan yang merebutkan tahta pemotongan pita diharapkan untuk menyunat anak tersebut layaknya tim operasi.
  3. Peresmian dengan memotong pita diganti dengan memotong gigi kawat Icy dengan tang.
  4. Peresmian dengan memotong pita diganti dengan memotong rambut salah satu panitia sesuai dengan style yang diinginkan.
  5. Peresmian dengan memotong pita diganti dengan memotong tangan anggota UKPM Genta Andalas yang merupakan pelaksana acara sebagai bentuk pengorbanan akan cintanya terhadap UKPM nya sendiri.
dan banyak lagi ide-ide yang lain yang jika diutarakan juga pasti tidak akan didengarkan dan akhirnya hanya diungkapkan di internal kelompok KOKYTD itu saja. yah.. semoga besok pagi berjalan lancar. amin..

Rabu, 27 Juni 2012

Renovasi Gubuk

hari ini otak saya kayak gubuk yang tak berpenghuni. kosong karena tak tau langkah apa selajutnya yang harus saya ambil untuk menghadapi permasalahan hidup yang cukup pelik ini. Siklus yang semakin surut dalam diri saya begitu mencuat tak terbantahkan. memendam bukan solusi untuk tahu, lebih baik mulailah bercerita. berhubung saya bukan tipe pendongeng dalam radio, jadi saya hanya bisa mengandalkan jari saya untuk bercerita. saya masih perlu banyak belajar untuk dapat mensinkronisasikan otak dengan rongga mulut. Pabila anda menemukan seidkit esensi kegalauan dari apa yang saya pergayakan dalam setiap untaian kata dan kalimat yang sedang dibaca kalian semua, ketahuilah.. anda semua salah sedikit dan benar besar. tepuk tangan untuk kalian semua, kedip manja untuk anda, serta kecup mesra buat kamu.
oke, mungkin terlalu lebay menganggap ini masalah yang pelik karena murni permasalahan ini berawal dari rasa malas yang sudah terlalu menggerogoti diri. tapi toh scene hidup yang ini harus saya lalui juga, dan kalau bisa saya akan berusaha untuk menciptakan scene yang fantastis agar film kehidupan saya bisa dapet award dari yang maha kuasa dan jadi box office untuk semesta. namun untuk saat ini, kalimat "hwaiting!" yang biasa dijeritkan oleh lidah cantik ledis korea pun tak mampu membakar gairah untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda ini. 


ketika jeritan ledis korea tadi masih sampai saat ini menjerit-jerit di suatu bagian dalam tubuh ini, saya malah membuang-buang waktu percuma dengan membuat jari-jari sendiri kekar berotot dan tidak lentik lagi dengan mengetik dan "membuat tulisan" dengan tambahan kata "mungkin" sebelum kata "membuat" di dalam ruang yang tidak sedikitpun akan mendapatkan nilai dari dosen di jurusan, tidak seperti pekerjaan yang seharusnya saya lakukan, namun inilah kesenangan. dan janganlah kau hentikan kesenanganku ini. itulah yang saya mohonkan dan lalu permohonan itu sendiri saya tujukan bukan kepada anda, kamu, dan kalian semua. untuk jal ini sayapun berani bersumpah bahwasanya saya tidak melakukan negosiasi permohonan kepada anda, kamu, dan kalian semua. hanya kepada Tuhan-lah permohonan tadi saya tujukan. camkan itu hal baik-baik untuk direnungkan selanjutnya patri dalam hati masing-masing sesuai dengan agama dan kepercayaan kalian. semoga anda, kamu, dan kalian semua tidak pernah salah paham baik dalam ukuran bongkahan raksasa/onggokan besar/potongan sedang/cuilan kecil dan all size berlaku untuk semua ukuran dan variasi harga yang tertera dalam semua produk impor china.

ahh... saya harus merenovasi gubuk ini. memberikannya sedikit furniture agar tidak hanya kosong, kemudian saya perindah dengan poster gadis cantik dari strawhat pirates, nami dan robin, agar ada semacam sensasi kehidupan di dalam gubuk yang tak berpenghuni tadi. agar tulisan ini lebih berisi seperti blognya si anu yang menceritakan tentang filsafat kehidupan, atau blog si anu yang berisikan untaian kata-kata yang seronok, atau lebih seperti pekerjaan yang harusnya saya kerjakan namun tidak saya kerjakan karena kesenangan sementara sebagai wujud pelampiasan saya terhadap pekerjaan yang tidak kunjung selesai dikarenakan ada semacam gubuk yang masih tidak berpenghuni tadi.

Waktu menunjukkan pukul 9 tidak tepat karena sudah lebih 10 menit dari hitungan tepat yakni 09.00 WIB + 10 Menit sama dengan 09.10 WIB. Lanjut ke persoalan berikut yang mengenai WIB yang merupakan bukan singkatan dari Wanita Impian Bapak, akan tetapi yang sedang saya bicarakan ini mengenai perkara waktu sehingga WIB itu sendiri mempunyai arti kepada maksud Waktu Indonesia Barat. Tampar saya apabila kesalahan hanya mengklaim serta merta memonopoli diri saya saja sebagai miliknya seorang.


Sabtu, 31 Desember 2011

Ini Semua Gara-Gara Mpok Atik!


Baru-baru ini saya liat iklan Pocari Sweat. Ada cewek-cewek sekelas joget2 di pantai. Nggak, Mpok Atik nggak ikutan joget. Kirain itu yang joget-joget emang orang Asia Timur karena mayoritas mata mereka yang sipit-sipit plus kulit mereka yang putih-putih. Eh ya elah ternyata orang kita jugaaa... Tapi sumpah, Mpok Atik nggak ikut. Nah, barusan saya juga cari-cari info, data-data, dan berita-berita terbaru seputar dunia entertainment dan dunia keartisan –saya jarang nonton tipi sekarang, dan ternyata, segerombolan cewek itu terkumpul dalam sebuah group Idol nyang namanya JKT48. Berasa rada-rada akrab gitu nama groupnya. Dan ternyata eh iya, AKB48, group idol asal Jepang. Sebenarnya saya kurang suka dengan segala macam bentuk girlband dan group idol. Tapi karena saya hidup, tumbuh dan berkembang di daerah yang pada akhir tahun 2012 ini LATAH sama girlband girlband –dan hingga akhirnya menjamurlah girlband-boyband KW an, mau tidak mau saja juga hapal sedikit irama, sedikit lagu, dan sedikit nama group mereka. Bahkan waw. Saya juga punya 2 buah pidio SNSD, yang judulnya gee dan genie, serta 2 buah pidio super junior, yang judulnya sorry-sorry serta parodinya.

Balik lagi ke JKT48, saya juga mikirnya apa ini hasil produk “ngekor” juga ya? Kalo iya, bengak kali orang ngekor pake nama-nama sama dengan yang diekorin, AKB48. Eh ternyata JKT48 ini sistergroupnya AKB48. Udah resmi dan kata orang2 di group facebook JKT48, “Group idol yang emang dirancang dan diurus dengan baik, nggak asal-asalan”. Gila, jaman sekarang emang “ngekor” bisa dengan berbagai macam cara dan variasi. Ada yang dengan cara binal, sekedar cari-cari sensasi aja, sampai ke yang baik-baik, yang emang resmi, diatur sedemikian rupa, tapi tetep aja, NGEKOR! :D

Apalagi di iklan pocari sweat itu JKT48 juga ngover lagu Heavy Rotationnya AKB48, dan juga kata orang2 di group fb, JKT48 bakal nyanyiin Heavy Rotation versi Indonesiahh. Memang jurus jitu banget untuk narik penggemar, secara AKB48 emang udah punya banyak fans di Indonesia. (Pikiran saya jadi ngelantur, andaikan nantinya ada PDG48 atau MDN48, apakah mereka akan menyanyikan Heavy Rotation dengan bahasa padang atau medan? Ai Lop Yuuuu... Ai Need Yuu...HORAS! HORASS! trus mereka joget-joget pakai ulos. Bagi cewek2 PDG48 mereka bisa pake suntiang atau sulaman, dan joget-joget sembari makan rendang. Aha! Ide saya ini barangkali bisa mengakali JKT48 atau 48 48 lainnya biar nantik gak dibilang ngekor-ngekor amat. Selain itu ada nilai budaya yang ditonjolkan. Gak cuma paha dada paha dada aja). Di officialnya mereka bilang, "Kami ingin menciptakan tempat bagi para perempuan Indonesia untuk mewujudkan mimpi mereka". Tapi yo jangan dengan cara latah-latah gini lah... Kesian..

Saya juga mikirnya emang jenius kali lah si Yasushi Akimoto, nyang jadi produser AKB48 dan sistergroupnya JKT48. Jeli liat ladang bisnis. Tau banget kalo orang-orang indo lagi mabok girlband-boyband KW, nah Yasushi Akimoto ini menghadirkan KW,  tapi dengan format RESMI! Cerdaaasss... sehingga masyarakat kita menilai, wah, ini produsernya AKB48 langsung yang turun tangan. Jadi kesannya agak-agak highclass. Padahal tetap aja ngekor.. Emang kapitalis sekali.

Bener kata Raditya Dika di Stand Up Commedy. “Ada aaaapa dengan Indonesia...?”. Memang, jaman sekarang hampir gak ada yang original, karena yang original pun terinspirasi dari yang sudah ada duluan. Tapi paling tidak, cobalah sesuatu yang beda. Sesuatu yang bikin kita punya ciri khas. Kita punya ciri khas, dan itu yang harus dipertahankan. Pasti ini semua gara-gara Mpok Atik di pilem Gerhana dengan ciri khasnya yang latah, hingga akhirnya semuanya jadi ikut-ikutan latah.

Mpok Atik: salah gue apeeeee?? Eh ape.. eh ape..
'-_-

Minggu, 28 Agustus 2011

Bukan Tulisan

Saya suka menulis. Suka sekali. Meruntun imaji dalam untaian kalimat. Dulu, tapi. Sekarang? Saya jarang sekali menulis. Kepalang takut. Bukan, bukan karena saya takut akan judgment atas tulisan saya. Toh kebanyakan apa yang saya tulis saya simpan hanya untuk konsumsi pribadi. Saya takut apa yang saya tulis itu tidak ada harganya, dangkal. Yang akhirnya membuat saya berpikir kalau otak ini tidak cukup liar untuk berkisah dengan layak dalam rangkaian kata. Saya rindu saya yang dulu yang bisa duduk berjam-jam di depan layar komputer atau di hadapan sebuah buku untuk menuangkan buah pikiran saya; puisi asal rangkai atau cerita asal khayal, yang sekarang saat saya baca kembali, menimbulkan rasa malu juga salut. Salut karena saya ternyata bisa menyelesaikannya, namun malu karena hanya segitu saja kemampuan saya.
Ya, bedanya adalah… Dulu saya tidak peduli, tapi sekarang saya terlalu banyak berpikir. Seperti detik ini, mau mulai menulis saja mikirnya tidak cukup sekali.

Selasa, 21 Juni 2011

Hopeless? Be care!

Think of those who strife for life, the weak of the weakest. What matters is you don't have people to care about, you don't care about any people. That's why you don't care about leaving them. 

Why expect people to care about you while you never care about people? What you sow is what you reap. You love people, people love you. You don't love people, why expect people to love you?


In fact, there are actually people who love you, but you just don't care. Life is meaningless for those who don't know how to receive love where there is love everywhere. Look around you, even the birds know how to fight for a living. You, are just lack of gratitude. That explains why you're hopeless.

Sabtu, 04 Juni 2011

ia, mungkin kamu dulu punya segalanya. perhatian, prestasi, kepercayaan, itu dulu. duluuuu sekali sampai kita bertemu. dan kamu harus menerima, dan merelakan, jika, apa yang kamu inginkan tidak bisa kamu miliki, tapi dimiliki oleh temanmu. apa yang dulu kamu dapatkan, kini tidak diberikan kepadamu. jangan sekali-kali, merebut semua hal yang sepatutnya dimiliki temanmu, dengan cara dan etika seperti orang bodoh, orang tolol. atau malah menunjukkan kelemahan temanmu di depan orang-orang, hanya dengan tujuan, untuk, menunjukkan bahwa kamu terlihat lebih hebat, lebih bisa diandalkan, lebih brillian. karena dengan begitu, akan menunjukkan bahwa, sebenarnya kamu itu cuma NOL. NOL besar. kamu hanya, pemilik otak dengan kapasitas kepala yang terlalu besar. hanya, sebuah bualan yang meracau bebas tanpa isi, dan seseorang yang hidup dengan keindahan masa lalu. ah, kasihan,... dan kesal!

Rabu, 02 Februari 2011

Ngomong-Ngomong...

Ngomong-ngomong, aku ingin bekerja sebagai jurnalis, suatu saat nanti. Maksudku bukan jurnalis kampus seperti saat sekarang, tapi.. jurnalis yang bekerja di media berstandar nasional, di dunia kerja yang sebenarnya. Aku ingin jadi jurnalis. Yah, aku menyadari apa sebenarnya cita-citaku semenjak aku berkenalan dengan sebuah organisasi yang bergerak di bidang penerbitan berita di kampusku. Sebelum-sebelum itu aku sadar aku mempunyai hobi menulis. Namun, waktu itu aku tidak memikirkan tentang hidup di dunia jurnalistik. Aku ingin jurnalistik karena menurutku itu adalah pekerjaan yang akan sangat aku nikmati nanti. Aku sangat, tergila-gila, dengan dunia itu.

Beberapa saat kemudian setelah aku mengetahui bahwa inilah kemampuanku dan inilah cita-citaku yang sebenarnya, aku berusaha keras untuk menajamkan sikap kritisku terhadap apa yang sedang terjadi di dunia luar. Namun aku merasa, aku masih tidak mampu untuk berpikiran kritis. Maksudku, dibanding dengan teman-teman lain yang satu organisasi kampus denganku. Oh, atau bahkan dengan teman sekelasku. Aku masih jauh ketinggalan sikap kritis. Yah. Sikap itu memang sangat dibutuhkan oleh seorang jurnalis yang hebat. aku ingin bersikap kritis, dan aku sedang mencoba melakukannya.

Disamping hobi-hobi menulisku, cita-cita, dan segala upayaku untuk meraihnya, ternyata orangtuaku tidak ingin membiarkan aku mengambil langkah tersebut. Aku tidak tau apa yang salah dengan memilih jurnalis sebagai jalan hidup, tetapi beliau tetap menyarankan aku untuk berpikiran lebih dewasa, “Apa lagi ini adalah untuk pilihan hidupmu. Jalan hidupmu nanti,” ujar beliau. Jika ini jalan hidupku, seharusnya aku kan yang menentukan apa yang ingin aku pilih? Mereka tidak tau kemampuanku. Mereka tidak tau aku telah membuat berpuluh-puluh tulisan yang telah dibaca semua orang (anggap saja seluruh mahasiswa Universitas Andalas selalu membaca Genta, dan anggap saja semua orang membaca semua tulisanku yang ada di note facebook, serta di blog ini, tentunya), aku menjuarai lomba karya tulis, dan aku sangat hobi menulis. Mereka hanya ingin aku bekerja di kantoran, memakai baju seragam pegawai seperti yang dilakukan oleh anak-anak teman mereka. Hadooh.. aku ini bukan mereka, setiap manusia pasti punya perbedaan, right? Aku berbeda dengan mereka, begitu juga dengan kemampuan yang aku punya!

Lalu, kenapa mereka melarang aku untuk menjadi jurnalis? Menurut beliau, jurnalis itu pekerjaan yang tidak menghasilkan dan tidak untuk wanita. Lalu, apakah pekerjaan untuk wanita? Menjahitkah? Memasak? Just it?
Aku tidak munafik. Mustahil aku tidak berorientasi pada uang dalam menjalankan pekerjaanku nanti, tapi ada yang lebih daripada itu semua. Kenyamanan. Aku menginginkan adanya kenyamanan ketika aku bekerja nanti. Maksudku, percuma kalau nantinya aku mempunyai gaji yang besar tetapi dari diriku sendiri aku merasakan ketidaknyamanan dan bekerja secara terpaksa. Aku berpikir, jika aku mengerjakannya dengan hati, dan menikmati setiap tantangan yang akan dihadapi, sesuai dengan minat dan bakatku, tentunya, aku akan dapat tersenyum lebar meskipun gaji yang kudapatkan tidak besar. Hm. Mungkin beberapa tahun kemudian pendapatku akan berubah. Tapi inilah diriku yang sekarang.

Maksudku, kita tidak dapat memaksakan pilihan kita terhadap orang lain, ya kan?

Selasa, 01 Februari 2011

Pernah gak merasa seperti ini?

Ketika kamu ingin sekali dianggap spesial oleh orang yang kamu sayang, kamu gak ingin terlihat jelek sama sekali. Dan karena itu, kamu menjadi takut posisimu tergantikan; dan ini mengakibatkan rasa cemburu. Rasa cemburu itu membuat kinerja dan sikapmu menurun dari yang seharusnya, dan akibatnya, dirimu gak bisa menjadi kamu yang sebenarnya. Kamu gak menjadi dirimu yang terbaik karena terlalu repot memikirkan bagaimana tetap menjadi spesial di mata orang yang kamu sayang.

Sebaliknya, masih di dalam perasaan seperti itu, kamu berpikir bahwa kasih tak bersyarat itu gak ada. Kamu mempercayai adanya kasih yang bersyarat. Orang akan menghargai dan tetap menyayangimu ketika kamu baik dan sesuai dengan jalan yang ditentukan. Ketika perfeksionisme itu pecah, rasa sayang juga pecah. Jadi, untuk mengetahui bahwa kepercayaan ini benar, kamu melakukan hal yang sengaja salah; lalu merasa 'puas' ketika kenyataan kasih tak bersyarat itu terbukti salah.

Nah, di antaranya, kamu menjalin hubungan dengan pemikiran berdasarkan kompetisi dan rasa cemburu, bukan berdasarkan tujuan hubungan itu ada. Akibatnya, hubungan benar-benar terputus, dan rasa puas akan terbukti salahnya kasih tak bersyarat itu pun muncul.

Aku sedang ada dalam posisi ini. Dan ini melelahkan. Keyakinan yang harus diubah adalah mengenai kasih yang tak bersyarat. Kupikir, kasih tak bersyarat di dalam hubungan antar manusia itu gak mungkin. Kalau Tuhan, mungkin saja. Tapi, ini mungkin karena aku tak banyak mengerti soal kasih dan macam-macamnya. Mungkin perlu lebih banyak baca buku?

Sebenarnya, kasih tak bersyarat itu ada gak sih?

Aku skeptis terhadap banyak hal yang kulihat dan dengar, karena belum pernah kualami sendiri. Apa aku salah? Apakah ini karena gelembung perfeksionisme-ku, maka aku gak mentolerir kesalahan (bahkan yang dibuat oleh diri sendiri)? Apa karena aku hanya melihat ke dalam diriku sendiri tanpa melihat ke kotak pemikiran orang lain? Apa karena aku menutup hati terhadap kemungkinan kasih tak bersyarat itu hadir di hidupku?

Apa aku sedang membenarkan keyakinan diriku sendiri (lagi)?

Seorang teman berkata, jika perfeksionisme tak sehat ini berlanjut, aku akan susah memaafkan diriku akan (bahkan) kesalahan-kesalahan terkecilku. Yah, ini benar. Aku terlalu sering mendengarkan inner-critic daripada dukungan terhadap diri sendiri. Sebaliknya, di dalam sifat perfeksionisme ini, ada kompromi-kompromi dan pembenaran diri yang tinggi terhadap kesalahan yang (telah) diprediksi oleh diri sendiri.

Aku selalu berprinsip begini. Ketika aku dihadapkan pada sebuah kolam berisi manusia yang berenang, aku harus tahu dulu kedalaman kolam, suhu air, dan risiko apa saja yang kemungkinan akan kuhadapi sebelum aku mencelup ujung jempol kakiku di air kolam tersebut.

Tapi di dalam prinsip yang sama, aku akan memastikan ketika aku masuk di dalam kolam itu, akan ada tangga untuk keluar kapan saja aku mau. Ketika aku merasa terlalu dingin, atau kolam menjadi membosankan, aku akan keluar karena rasa enggan atau alasan yang kubuat sendiri. Bahkan sebelum aku benar-benar menguasai sebuah gaya renang.

Ini terjadi bukan hanya sekali. Bukan hanya dalam satu hubungan. Bukan hanya satu kasus.

Apakah ini masalah komitmen? Apakah ini mengenai dorongan (atau tendangan)? Apakah aku terlalu lembek (atau terlalu keras) terhadap diriku sendiri? Apa yang menjadi akarnya? Apakah rasa takut? Sikap skeptis dan prediksi yang cenderung negatif? Kesenangan sementara dan rasa takut mengambil langkah lebih jauh?
Kalau aku berkata mau berubah, apakah aku akan cukup percaya bahwa ada orang yang tetap menyayangiku bahkan ketika progres perubahanku begitu lambat? Atau aku akan ditendang seperti prediksi skeptisku selama ini?

Aku terlalu banyak berpikir. Mungkin.

Yah, kalau kau mengerti, bagaimana menurutmu?

nb: Bagaimana meyakinkan diriku sendiri bahwa gak semua orang berpikir seperti aku berpikir?


*hanya sebuah catatan labil :)

Sabtu, 15 Januari 2011

Tidakkah mereka... Tidak.

Apakah saya masih tidak layak untuk diberikan kebebasan memilih? 
Saya, seorang  anak. Berumur 20 tahun. 20. Dua puluh. Apakah saya masih belum bisa diberi kepercayaan? Dua puluh. Apakah saya dianggap masih dangkal dan labil? Oh, jika mereka melihat sedikit keluar sana, menjulurkan mata dan pikiran mereka, ke anak-anak yang berumur 20 di luar sana. Mereka akan melihat. Mereka akan tau, bahwa mereka memiliki anak yang pantas diberi kepercayaan.


Tidakkah mereka melihat, anak-anak disana, yang berumur 20 tahun. Dua puluh. Mempunyai mata yang tidak bersinar, dan tidak berminat untuk mengejar masa depan yang lebih baik?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana, yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Begitu leluasanya meninggalkan rumah pada malam hari demi segelas alkohol?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana, yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Meninggalkan rumah pada siang hari hanya untuk memberikan uang pada penjaja fashion untuk mendapatkan berkantong-kantong topeng? Ah. maksudku, pakaian?
Tidakkah mereka melihat anak-anak disana yang berumur dua puluh tahun. Dua Puluh. Begitu leluasanya menggerayangi tubuh pasangannya, dan menganggap mereka berhak memiliki tubuh tersebut, seperti anjing, memiliki nafsu yang besar, dan tidak bisa mengontrol? 

Seperti itukah aku, wahai orang-orang yang menyayangiku? Aku. 20 tahun. 20. Dua puluh. Dua puluh tahun kita bersama. Tidakkah mereka tau seperti apa aku. Seperti apa pemikiranku. Seharusnya mereka tau, bahwa aku, anak dua puluh tahun, sudah bisa berpikiran dewasa. Berpikiran lebih baik, dari mereka, anak-anak yang berumur dua puluh tahun lainnya.


Aku tidak mereka. Aku membuat langkah untuk masa depanku.
Aku tidak mereka. Aku lebih berdiam di rumah.
Aku tidak mereka. Aku lebih memilih buku daripada topeng, ah... maksudku pakaian.
Aku tidak mereka. Aku menyayangi dan menghargai kekasihku, yang menyayangi dan menghargai aku.

Tidakkah mereka tau, bahwa aku, layak untuk mendapatkan kepercayaan dari mereka? 
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, anak dua puluh tahun, berhak untuk memilih seperti apa masa depanku?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, punya otak, untuk berfikir, dan mempertimbangkan manakah hal yang terbaik untuk aku, dan mereka?
Tidakkah mereka tau, bahwa aku, telah lama memendam, mempurukkan, dan menumpukkan pilihan-pilihanku?
Tidakkah mereka tau, tumpukkan pilihan ini, hanya keluar, sebagai air mata? 

Tidak. mereka tidak tau. 

Sekarang. Pilihkan aku pilihan. Apa saja. Aku akan mengekor. :(

Rabu, 15 Desember 2010

Muntahan


Aku, berbeda denganmu. kau mungkin saja cenderung lebih mempermudah hidupmu. Kau selalu menghindari masalah. dan enak saja kau bilang aku ini sok sibuk? Aku bukan sepertimu, kubilang. Kau terlalu memandang segala hal dari satu sisi saja. Sekali lagi aku perjelas, aku bukan orang sepertimu. Mungkin memang cara bersenang-senangmu adalah dengan menghamburkan uang orangtuamu pada para penjual baju bermerek, menghias tubuhmu dengan aksesoris mahal, atau sekedar mencicipi makanan berharga puluhan ribu? ia, itu memang caramu. makanya kamu tidak suka aku. Tau cara bersenang-senangku gimana? Aku lebih memilih menyalurkan kemampuanku pada sebuah organisasi. Aku menulis dan membiarkan orang-orang membaca tulisanku. Sekarang lihat kan, aku ini lebih baik darimu. Aku ini tidak sama denganmu. Disini aku telah mempunyai tujuan hidup sedangkan kau masih sibuk mempercantik diri. Dan kau pun tak punya hak untuk mengatakan aku ini sok sibuk. Lihat dulu dirimu. Kamu itu yang terlalu sibuk dengan urusan nafsu tak perlu. Sekalipun kau mencibir di belakangku, mengacungkan jari tengah, dan mungkin hingga kau muntah, aku tak peduli. Apapun kata-katamu dibelakangku, sekali lagi ku bilang, aku tak peduli. Huh. Kau tau, aku benci orang sepertimu. Kau itu terlalu ikut campur masalah cara bersenang-senangku, tau? Lihat aku, apa aku pernah protes dengan apa yang aku lakukan bersama geng sampah mu itu? tau kenapa aku bilang geng mu geng sampah? karena kau dan geng sampah mu itu sedang perang dingin, kau tau? Kau dan mereka bukanlah teman. Mereka, mereka yang kau anggap teman itu, selalu menjelek-jelekkanmu di belakang. oh iya, kau kan juga sering begitu ketika salah satu temanmu tidak ada diantara kalian. kau juga ikut-ikutan menjelek-jelekkan temanmu. Kamu sadar tidak sih apa artinya teman? Kau itu harusnya memberitahu apa yang benar, bukannya malah menjelek-jelekkan dan membeberkan kebusukannya. Dasar oportunis. Itu adalah salah satu alasanku tidak ingin dekat-dekat denganmu. Aku menjaga jarak denganmu, kau tau? Kan sudah ku bilang, aku ini tidak sama denganmu.

Masih mau protes?

Nih, jari tengahku sudah tegap berdiri mengarah padamu.

Minggu, 31 Oktober 2010

TUA?

Kamu tidak menyadari kapan saatnya kamu menjadi tua.

Tulang-tulang melemah. Otot melemah, otak juga ikut-ikutan melemah. Orang yang dulu menyegani kamu berbalik malah meremehkan kamu. Kamu ingin melakukan apa yang bisa kamu lakukan ketika muda dulu, tetapi ototmu tidak mau untuk diajak bekerjasama, dan kamu terjatuh, karena kamu melemah. Kemudian kamu membiarkan orang yang dulu kamu bimbing berjalan, memapahmu dengan hati-hati. 
Terkadang kamu merasa malu karena dianggap tidak bisa melakukan apa-apa selain berbaring ditempat tidur. Kamu ingin membuktikan bahwa kamu masih bisa mandiri, tapi lagi-lagi tidak bisa. kamu tidak bisa menyangkal bahwa kamu sekarang membutuhkan tangan orang untuk membantumu menyuapi makanan, memasangkan bajumu, sampai melakukan kegiatan pribadi pun harus orang lain yang melakukannya. Kamu tau kamu tidak bisa. Kamu harus merelakan kenyataan bahwa kamu dinafkahi oleh orang lain. Hidupmu bergantung pada mereka yang mau membalas jasa-jasamu. Hidupmu, bergantung pada orang lain.

Tua, segitu mengerikankah?

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails