Senin, 02 April 2012

Seperti Lolos Audisi

       Rasanya baru dapat pembimbing untuk proposal itu... kayak habis lolos audisi Indonesian Idol. Hari itu, Selasa, dengan semangat tinggi menggebu-gebu dan menggenggam dua bundel proposal di tangan (yang satu kopian tentunya, gak mungkin saya membuat proposal mengingat membuat satu proposal saja bikin saya hampir kurus dan saya pun hanya manusia biasa yang memiliki kemampuan terbatas), dengan tekad bulat dan harapan akan diterimanya proposal ini oleh jurusan, saya melangkah masuk ke Fakultas ISIP. Oh god, hati ini sunggup berdegub kencang seperti genderang mau perang, tapi itu kan lirik lagunya ahmad dhani yang katanya masuk aliran iluminati, saya langsung istighfar.
       Ketika masuk, saya mendapati teman-teman saya tengah berkumpul, dan melihat saya menjinjing sebuah proposal, teman-teman saya langsung memberikan support dan semangat, dan tidak lupa pula serangkaian doa menyertai langkah menuju ruangan sekretaris jurusan. Layaknya seseorang yang akan masuk ruang audisi yang di dalamnya sudah duduk ahmad dhani, agnes monica, dan anang yang menjalin hubungan dengan seorang artis pendatang baru ashanti. Sungguh gak kebayang deh gimana perasaannya aurel ketika mendapati ibunya kawin dengan pengusaha bertampang bar-bar asal timor timor dan hamil di luar nikah dan melahirkan kemudian mendapatkan adik tiri bernama amora, sementara ayahnya depresi dan membuat lagu-lagu sendu sebagai bentuk sindiran terhadap mantan istri sembari bergonta-ganti menjalin hubungan dengan penyanyi lain. Sungguh dramatik kisah hidup aurel.
       “Eji, semoga sukses ya,” ujar teman-teman.
       Kemudian saya masuk ruang audisi, dan menyerahkan proposal saya kepada buk desna. Wajah bu desna yang cantik perlahan menetralisir rasa ketakutan saya. Dan setelah itu.. yah.. menunggu proposal diterima atau tidak. Saya meninggalkan ruangan dengan perasaan lega. Lega, setidaknya saya sudah ada jawaban atas pertanyaan seorang teman yang mungkin suatu saat akan dilontarkan jika hal buruk terjadi misalnya proposal saya ditolak, seperti,
       “Hai ji, gimana TA lo guys? Lancar aja kan? Gua bentar lagi seminar proposal gitu loh,” ternyata teman saya gaul.
        Dan saya telah punya jawaban, “Hm, gue sih udah pernah ngasih proposal ke jurusan, tapi ya gitu deh, karena pemikiran gue yang kreatif bbbbanget, dosennya gak ngerti sama yang gue buat. Ditolak. Gue miris liat pendidikan di Indonesia jaman sekarang. Gak habis pikir gue.. sekarang lagi buat yang baru. Gue berusaha untuk gak kreatif kali ini”.
       Nice.
       Setelah menunggu beberapa menit di sekretariat Pers Genta, tiba-tiba ada teman yang SMSin saya, si Tika dan bilang kalo Bu Desna pengen saya ada di ruangan dia saat itu juga. Sontak saya kaget dan langsung melaju ke jurusan. Sesampainya di jurusan, saya yang deg degan langsung masuk ke ruangan bu desna dengan bermacam ragam pemikiran. Apakah saya lolos audisi Indonesian Idol atau tidak. Tiba-tiba bu desna membalikkan badan dan menyerahkan proposal saya yang sudah bertuliskan nama pembimbing. Oh god Bu desna kayak bilang “Selamat, kamu berhak ke Jakarta!!!” rasanya pengen sujud syukur. Dengan mata berkaca-kaca saya mengucapkan terima kasih kepada ibuk cantik.
       Hm, rasa lega yang saya rasakan beserta seluruh finalis Indonesian Idol mungkin Cuma sementara. Lega, karena akhirnya langkah awal sudah terjajaki dengan baik. Dan akhirnya setelah merasa “Lega” tersebut, barulah terpikirkan bahwa masih banyaaaaaaaak jalan yang harus ditempuh. Ini baru langkah awal. 

Minggu, 01 April 2012

I'm The Only Child

       Mungkin mereka yang punya banyak sodara bilang anak tunggal menyenangkan, diperlakukan kayak putri dan anak raja, semua yang diinginkan selalu ada, hari-hari selalu menyenangkan. Mereka pikir anak tunggal memiliki ego yang besar karena merasa apa yang diinginkan selalu terkabulkan, kepada siapapun mereka meminta. Mereka pikir anak tunggal adalah anak yang cengeng, manja dan tidak bisa apa-apa. Namun mereka salah. Salah besar.
       Saya sudah 21 tahun menjalani hidup sebagai anak tunggal. Seluruh kasih sayang tercurahkan pada saya, memang sangat menyenangkan. Sangat menyenangkan. Saya bersyukur untuk itu. Tapi, di samping sisi kehidupan saya yang sangat menyenangkan tersebut, ada satu sisi dimana saya merasa sungguh-sungguh sendirian –walaupun saya punya banyak teman. Saya pikir, saya sendiri yang menyebabkan mengapa saya merasa sendiri. Saya introvert.
       Saya sangat-sangat membenci bagian dari diri saya yang introvert. Tidak seharusnya saya memikul tantangan –jika kata beban menjadikan saya berimage mudah mengeluh- ini sendirian. Tentu saya juga tidak mau membagi-bagi beban kepada orang lain, tapi setidaknya dengan bercerita, “katanya” bisa mengurangi beban.
       Mengapa disaat teman-teman begitu percaya kepada saya bercerita tentang segala hal, mulai dari hubungannya dengan pacarnya, sampai ke kehidupan rumah tangganya, saya justru harus berpikir ratusan kali, apakah saya akan menceritakan apa yang saya alami dan apa yang tengah saya hadapi kepada teman dekat saya sendiri. Pun begitu juga kepada kedua orang tua saya, jarang sekali saya mampu bercerita tentang apa yang terjadi.
       Jika saya ada waktu, pasti saya akan mendengarkan setiap orang yang ingin bercerita kepada saya. Kapanpun mereka mau, saya selalu berusaha ada ketika mereka minta didengar. Namun, ketika saya ingin bercerita, mengapa saya hanya bisa menelan bulat-bulat apa yang ingin saya bicarakan? Dan disisi lain pun saya juga merasa, mereka yang akan mendengarkan ceritaku akan berpikir, “Untuk apa gunanya saya mendengarkan dia? Toh tidak ada berarti apa-apa untuk saya”. Dan akhirnya saya hanya bisa menelan kata-kata yang sudah tersangkut di kerongkongan dan memaksa untuk kembali memasukkannya ke hati. Dan karena hati menjadi nyeri karena tidak mampu lagi menampung sampah-sampah yang tidak jadi dikeluarkan, maka tubuh saya akan mengeluarkannya berupa air mata.
Entah kenapa saya merasa menjadi anak tunggal adalah hal yang sangat menyedihkan. Ketika teman-teman saya yang mempunyai saudara bisa melakukan hal-hal yang mereka inginkan, seperti mau menjadi apa saat besar nanti, ingin mencoba hal-hal baru, berjalan dengan jalan yang dipilih sendiri, saya justru memiliki beratus-ratus pertimbangan ketika ingin melangkahkan kaki satu langkah saja. Selalu gamang. Saya harus mempertimbangkan bahwa saya adalah anak tunggal, saya harus berhasil di kehidupan karena saya satu-satunya harapan mereka. Jika saya gagal, maka sama saja saya membawa mereka turut serta menuju kegagalan. Bandingkan dengan teman saya yang punya seorang saudara, harapan tersebut bisa mereka emban berdua. Dikala saatnya kita dewasa pun juga, orang-orang yang bersaudara mempunyai teman untuk saling berdiskusi, saling meminta saran dan saling menjaga. Anak tunggal? Lagi-lagi harus bisa berdiskusi dengan diri sendiri, mengambil keputusan sendiri, bertanggung jawab sendiri, dan menikmati hal-hal lain sendirian. Kecuali anak tunggal yang ekstrovert.
Saya sangat membenci jika ada orang yang memandang saya manja hanya karena mengetahui saya anak tunggal. Biasanya mereka yang memandang saya seperti itu hanyalah orang-orang yang mengenal saya setengah-setengah.
       Semoga Tuhan memaafkan saya yang tidak tau diuntung ini. Tapi tidak bisa dipungkiri, memang begitulah rasanya jadi anak tunggal. Namun bagaimanapun juga saya bersyukur.
Terkadang saya sangat merindukan sosok saudara, yang bisa membantu saya untuk menjinjing beban ini bersama-sama. Tapi Tuhan memberikan seorang anak tunggal kepada ibu dan ayah saya, itu berarti mungkin saya mampu menahan ini sendirian. Ataupun juga bisa berarti, Tuhan mau saya tidak buta melihat orang-orang terdekat, yang mungkin juga selalu ada untuk saya.

Yah, semua ada plus minusnya. Karena sempurna, selalu dinilai berlebihan.

Rabu, 29 Februari 2012

Take a Shower

          setelah mikir panjang mau nulis apa, akhirnya saya nulis apa yang saya pikirkan saja. karena kalau bukan yang tidak saya pikirkan maka tidak mungkin saya menulis karena saya menulis berdasarkan apa yang saya pikirkan baru saya menulis. sudah sudah, cukup. nginap di  hotel memang bikin suasana jadi beda. dari suasana kamar, kunci pintunya, yang biasanya mandi pakai gayung sekarang bisa pakai shower.. gak heran di poto pesbuk banyak kali yang poto-poto di hotel. gayanya juga bermacam-macam. ada yang foto di balik tirai kamar hotel, di kamar mandi hotel dengan berbagai macam posisi dan gaya. belum lagi ada room service yang disediakan pihak hotel. misalnya ada kakak-kakak pegawai hotel yang kece maka kita bisa berpura-pura mesan room service tapi syaratnya harus kakak A yang datang. dan dimulailah proses PDKT. tapi sampai sekarang jarang terdengar kalau kisah perkawinan dimulai dari memesan room service. 
          ngomongin soal shower, shower identik dengan kefrustasian dan kegalauan serta melambangkan kesedihan yang tiada tara. seperti di film-film dan sinetron jika  ada seorang tokoh yang dihamili atau diperkosa oleh lelaki bejat maka pas ia pulang ke rumah ia akan langsung mandi dengan shower sambil terisak menangis lalu bilang, "Aku kotooooooooorrrrr... Aku kotooooooooooorrr...."
          beda lagi sama iklan shampoo. shower melambangkan kebahagiaan. soalnya wajahnya bahagia semua pas mandi pakai shower. lagian gak ada juga sih iklan shampoo yang artisnya mandi pakai gayung. emangnya ada apa dengan gayung? apakah gayung hanya untuk cebok saja? padahal sangat menyenangkan jika cebok dengan shower. airnya lebih tepat sasaran. 
          shower juga bisa digunakan jika anda penyanyi yang berkiprah di kamar mandi. jika ditambah dengan kaca di kamar mandi, maka jadilah anda artis di layar kaca kamar mandi anda sendiri. mengapa harus susah-susah menjadi gadis sampul dahulu untuk masuk ke dunia selebritis. toh hanya ditaroh di sampul. kenapa gak ada gadis laporan utama atau gadis pendapat anda, kan lebih padat berisi. cukup dengan bernyanyi di kamar mandi sambil menghadap kaca anda akan meraih impian anda menjadi selebriti. namun kekurangannya, kita tidak akan digosipin sama nicky tirta atau raffi ahmad. tapi siapalah mereka.
          tapi memang benar, jika ingin menyanyi di kamar mandi, maka gunakanlah shower. jangan gunakan gayung karena berdasarkan pengalaman Jamrud jantung nenek tetangga bisa kumat lagi dan burung tetangga bisa lepas dan astaghfirullah ada Pak RW yang gedor-gedor pintu bawa-bawa polisi sebelum kepala nongol.  selanjutnya kamu diseret dari kamar mandi tanpa handuk tanpa baju. belum lagi kita dituduh nyuri sama mereka gara-gara suara kita ketika bernyanyi pakai gayung. kejam banget kan. makanya, pakai shower.
          di hotel juga jarang ada yang menyediakan WC jongkok. semuanya WC duduk. mudah-mudahan besok-besok ada WC berbaring atau WC berdiri. tapi jujur, lebih nikmat BAB di WC jongkok dibandingkan dengan WC duduk. Proses "mengajan" merupakan proses yang paling nikmat. tekanan pada perut lebih terasa pada saat kita menggunakan WC jongkok. jadi ketika eeknya keluar, leganya berkali-kali lipat dibandingkan hanya BAB di WC duduk.
          kadang orang yang nginap di hotel juga aneh-aneh. tau-tau pas pulang udah bawa sikat gigi, pasta gigi, shampoo, sama sabun di kamar mandi hotel. atau sendal hotel dan handuk juga. kadang sudah teronggok di dapurnya sugar sachet yang disediakan di kamar hotel. kenapa harus barang-barang seperti itu yang dibawa. apakah tidak terpikirkan oleh mereka membawa barang yang lebih ekslusif dan jarang didapatkan dengan cuma-cuma kayak TV hotel, AC hotel, sofanya, lampu meja, kan lebih berbobot. kenapa orang-orang kita pikirannya sangat dangkal sekali. kadang teriris hati ini melihatnya.


        

Jumat, 17 Februari 2012

Buterflies in My Tummy




I have butterflies flying around inside my tummy when I'm with you 

I hear bell-chimes ringing blown by wind of spring when I'm with you
Oh, this tingling feeling makes me wanna jump makes me wanna shout across the room 
Oh, this feeling of longing but damn, it's so blinding, I just can't tell if I feel happy or sad
I hear blue birds singing up around the tree when I'm with you
I see rainbows appearing everywhere I go when I'm with you
Oh, this tingling feeling makes me wanna sigh makes me wanna fly across the moon 
Oh, this feeling of longing but damn, it's so blinding, I just can't tell if I feel happy or sad

I have butterflies flying around inside my tummy when i'm with you

Mocca - Buterflies in My Tummy


Talk About Responsibility


Mungkin sebentar lagi ada janji yang diinjak-injak sampai mati.
Atau omong kosong yang hanya kau tampilkan di dalam sebuah lemari, tak kau usik.
Dan suara yang kau berikan hanya sebatas bibir saja, tak kau renungi.

Ada masa ketika kau berdiri dengan kakimu sendiri.
Kamu akan mengerti bahwa teman-temanmu bukan mereka yang kamu harapi. 

Pada akhirnya, kamu akan berdiri sendiri, menjilati ludah yang kamu semburkan di atas sepatumu sendiri.

Kamu belajar menangani rasa geli menertawakan diri yang sendiri dan mengelus kepalamu sendiri atas sisa-sisa tanggung jawab yang akan kamu lunasi.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails