Rabu, 30 Januari 2013

#1 One Piece - Straw Hat Pirates!!

Straw Hat Pirates adalah sebuah nama kelompok bajak laut di manga One Piece. Sebuah kelompok yang sungguh sangat sangat saya sukai. Kelompok ini berbeda dari bajak laut yang lain. Runtuh sudah bayangan-bayangan saya tentang image bajak laut semenjak membaca komik ini. Ketika kita membayangkan bajak laut, pasti akan langsung terbayang sosok-sosok yang kejam, brutal, bar-bar, jahat, licik, pokoknya gak ada baik-baiknya lah. Banyak hal yang bikin saya berpikiran seperti itu. Mulai dari novelnya Alfred Hitchcock Trio Detektif, yang waktu itu di novel tersebut ada sedikit bagian yang menceritakan tentang bajak laut viking yang bar-bar dan brutal (lupa ceritanya, soalnya waktu itu masih SD), hingga film Pirates of Caribbean, kayaknya kok bajak laut itu imagenya jelek-jelek dan emang kayak penghuni neraka semua mau tampang sama kelakuan, jelek!
Kapten Jack Sparrow di Pirates of Caribbean pake rambut gimbal segala ala-ala penyanyi reggae


membinal

Tapi kelompok ini berbeda! Eiichiro Oda membuat image kelompok utama ini sebagai kelompok bajak laut yang mudah disukai oleh semua orang. Di komik ini, kelompok bajak laut Topi Jerami ditakuti bukan karena tampangnya yang beringas dan kelakuannya yang jahat. Mereka ditakuti karena kekuatan mereka. Mungkin lebih cocoknya disegani kali ya daripada ditakuti. Sampai sekarang, anggotanya ada 9 orang, dan entah kenapa, semuanya gokil-gokil dan aneh-aneh! Memang, ada beberapa kru yang pada dasarnya pendiam, akan tetapi Eiichiro Oda mampu membuat tokoh berkarakter pendiam dan dingin juga bisa mengocok perut pembaca. (hahaha ketika ngetik ini pun saya langsung terbayang salah satu plot ketika beberapa kru yang cool itu bertingkah aneh-aneh LOL!)


bandingkan sama yang di bawah ini (nunjuk ke bawah)


Ciri khas dari komik One Piece ini yaitu yang pertama, petualangan baru selalu dimulai ketika mereka baru saja sampai di sebuah pulau. Pada plot ini biasanya saya selalu penasaran, kira-kira seperti apa ya pulaunya, bagian negara yang mana lagi yang akan diambil referensi oleh Eiichiro Oda. Soalnya, setiap pulau/daerah di komik One Piece, memiliki kebudayaan masing-masing dan sebagiannya diambil dari kebudayaan di dunia nyata. Contohnya, Desa Fusha di Daerah East Blue yang merupakan kampung halamannya Kapten Bajak Laut Topi Jerami, Monkey D. Luffy, identik dengan negara Belanda karena ada banyak kincir angin di sana. Ketika mereka tiba di Kerajaan Arabasta juga, lebih bernuansa timur tengah, lengkap dengan unta, masyarakatnya yang pakai kerudung, piramid-piramid, oase, dan gurunnya. Kemudian ketika mereka sampai di Pulau Water Seven, identik dengan Venesia karena di sana ada kanal-kanal, bangunan-bangunan yang sebagian besar dibangun di atas air, aqua alta dan acqua alta, serta kebudayaan karnaval di sungainya. 



Venice

Water Seven

 Acqua Alta

Aqua Laguna

Ciri khas yang kedua yaitu, setiap battle, tiap kru mendapatkan lawan masing-masing. Saya juga suka bagian yang ini karena jurus-jurus mereka yang keren-keren. Eiichiro Oda juga membuat dialog-dialog yang menarik ketika di plot ini, dan gak lupa juga kadang dibumbui dengan sedikit dialog yang bikin kita ketawa. Jadi, walaupun berada di plot battle, suasananya gak terlalu menegangkan. 

Straw Hat Pirates vs Baroque Works

Ketiga, setiap setelah battle, selalu ada pesta!!! Saya sangat suka bagian ini (oke kayaknya saya suka semua semua cerita one piece) karena di plot ini lah kayaknya seluruh dialog-dialog yang lucu dan bikin ketawa berkumpul. Jadi intinya plot ini isinya senang-senang lah ya.

Becoming the Pirate King can come later. Time to eat and party first (ketika di Punk Hazard)

Ciri khas terakhir menurut saya yaitu, di One Piece ini, setiap Luffy merekrut kru baru, selalu ada kisah-kisah yang mengharukannya (kecuali pas merekrut Zorro si kru pertama kayaknya). Bagian yang paling mengharukan menurut saya adalah ketika chapter kisah hidup Chopper, chapter pengorbanan Robin terhadap Straw Hat Pirates, chapter penyelamatan Robin, kisah hidup Robin, serta ketika pemakaman kapal mereka Going Merry di laut DANNN ketika kematian Portgas D. Ace, kakaknya Luffy :'(. Mau dibaca berapa kalipun, chapter yang ini sungguh-sungguh menguras air mata. 

*ngais-ngais tanah ToT

Pernah ketika membaca komik One Piece dan saya nangis, temen saya malah mengira saya baca-baca komik romance. "Ji, ntar pinjam ya, kayaknya One Piece itu romantis banget deh ceritanya," ujar temen saya sambil tersenyum. well iya, one piece ini ceritanya mirip twilight loh.. erghhhhh...  -_-

Oh ya, ini Eiichiro Oda si mangaka komik mahakeren One Piece, yang mungkin pada dulunya adalah seorang primadona kampus kece dan cendikia. lihat saja sosok kelabu yang sedang kita pergunjingkan ini:


Oke, segitu dulu tentang One Piece. Iya emang banyak sih yang sudah bahas tentang manga One Piece ini dan lebihhh lengkap dari pada postingan saya. Tapi walaupun begitu saya masih tetap ingin posting segala hal tentang One Piece menurut versi saya nya. dan saya yakin ini keren. Sekian. 

sok-keren-tapi-sexy-kan

pengen ini tapi mahal pemirsah T-T

sumber gambar:

Selasa, 22 Januari 2013

H.O.B.B.Y

Assalamualaikum Wr. Wb.
Selamat malam, halo, saya eji, dan saya sangat sangat suka manga one piece.

Sebelumnya, saya mau bilang saya bukan ootaku. Memang benar, saya suka baca dan punya koleksi beberapa judul komik seperti One Piece, Detective Conan, Death Note, Doraemon, serta beberapa Shoujo Manga. Memang benar, saya suka beberapa anime Jepang. Memang benar, saya suka beberapa game Jepang. Saya suka dengan hal-hal yang berbau Jepang Gimana ya bau jepang, kalau pas siap olahraga bau saya kayak cuka loh, masam (meni penting!) kecuali dunia cosplay nya, soalnya dandanan orang yg cosplay beda banget dari imajinasi saya ketika membaca atau menonton anime. Contohnya manga Detective Conan yang dijadikan film. Walaupun Shun Oguri yang meranin tokoh Shinichi, saya gak suka, kurang puas sama performanya. Begitu juga sama cosplay-cosplay yang bertebaran di jagad raya. Saya lebih suka yang di manga atau anime. 

Saya sendiri berkenalan dengan dunia manga ketika masih duduk di bangku SD. Waktu itu kakaknya teman dekat saya punya koleksi komik Detective Conan. Saya yang waktu itu cuma tau segelintir tentang dunia Jepang (macam anime2 yang tayang tiap minggu pagi kayak Doraemon, Kabutaku, Chibi Maruko Chan, Kobo Chan, Dr. Slam, Dragon Ball, dll) terpana melihat koleksi komik-komik yang berderet rapih di meja kakaknya teman dekat saya tersebut. Mari kita panggil kakaknya teman dekat saya tersebut sebagai KTDS. Sebenarnya KTDS mempunyai banyak koleksi komik lain kayak Doraemon dan Dragon Ball, saya lebih tertarik ke Detective Conan. Saya penasaran dengan dunia detektif-detektif dan kasus pembunuhan (mungkin inilah penyebab mengapa film romantis versi saya adalah film psycho dan sebangsanya, kecuali SAW yang filmnya gaje bgt. Saya gak suka horor. Lebih baik liat orang berdarah-darah daripada liat yang horor-horor. Eh tapi saya juga lebih milih liat orang berdarah-darah dibandinkan melihat hewan-hewan yang berdarah-darah. Kasihan, serius.. gak kuat dedek bang). Jadilah, komik pertama yang saya baca adalah komik Detective Conan. KTDS pun dengan sukarela meminjamkannya.
Selang beberapa hari, ketika berjalan-jalan di Toko Buku (mama saya seorang guru, kami sering bgt ke toko buku), tiba-tiba terliriklah komik Detective Conan yang berderet rapi mengguncang iman dan menggerakkan biji jakun seorang gadis kecil (yang tentu saja tidak berjakun) sehingga dibujuk rayunya lah mamanya yang sedang melihat-lihat buku kesenian (mama saya seorang guru seni) agar segera pindah lokasi ke bagian komik-komik. Melihat keberbinaran mata anaknya yang lincah menarik-narik ujung bajunya, si Mama kemudian melihat dengan tatapan datar. Antara suka dan gak suka kayaknya. Suka, mungkin karena menemukan kenyataan bahwa anaknya ternyata suka membaca. Atau gak suka, karena menemukan kenyataan bahwa bacaan yang disukai anaknya ternyata sebuah komik.
Sebagai gadis yang mempunyai intuisi terhadap tindak tanduk dan gelagat sang ibunda yang datar-datar aja itu, Eji muda kemudian melaksanakan strategi agar komik yang diidam-idamkan jatuh dalam genggaman. Waktu itu Eji kecil tersebut meraih komik Detective Conan volume 26, di covernya bergambar Conan lagi megang gelas kimia (yang waktu itu saya gak tau yang namanya gelas kimia, saya cuma liat di film2 doang) terus si Eji yang penuh dengan akal bulus dan licik itu bilang kalau komik tersebut berisikan ilmu pengetahuan-ilmu pengetahuan. Si Mama dengan penuh penasaran mengambil komik tersebut dan menatapnya dalam-dalam dengan seksama. Mungkin beliau membaca sinopsis di belakang komik tersebut dan menemukan kenyataan bahwa komik tersebut bukanlah komik yang berisikan ilmu pengetahuan, tapi yang penting akhirnya... beliau membelikan komik tersebut untuk saya! Jadilah komik Detective Conan volume 26 sebagai komik perdana yang saya miliki. Siapa sangka, komik Detective Conan volume 26 tersebut berbuntut pada panjangnya deretan komik-komik saya di kamar sampai pada saat ini.


Berlanjut ke komik-komik Detective Conan yang saya beli, tiba-tiba saya terpesona sama manga One Piece.  Waktu itu saya lagi jalan-jalan ke Pasar Bukittinggi, dan berhadapan dengan kenyataan bahwa ada yang menjual komik-komik dengan harga lima ribu rupiah sahaja yang pada akhirnya saya tau kalau komik yang dijual adalah komik ilegal. Keliatan dari kualitas gambarnya yang buram dan kertasnya yang gak bagus serta covernya yang gampang rusak. Entah kenapa waktu itu saya membeli komik One Piece volume 34, haha.. dan jadilahhhh volume 34 merupakan komik One Piece pertama yang saya baca dan yang saya punya, dan berbuntut pada 64 komik One Piece lainnya yang ada di kamar saya sampai saat ini.

Dibandingkan One Piece dengan Detective Conan, dua-duanya sama-sama menarik dan bagus. Di Detective Conan, saya selalu suka dengan trik-trik pembunuhan, dan sangat sangat suka dengan cara Shinichi Kudo memecahkan kasusnya dalam sosok anak kecil. Shinichi Kudo sungguhlah jenius. Kalo saya sih, udah syukur banget banget bisa mecahin sebuah kasus. Tapi dalam tubuh anak kecil? Butuh kemampuan yang lebih jenius lagi dong, otak yang udah digunain untuk berpikir mengenai kasus, digunakan lagi untuk memikirkan strategi bagaimana menyampaikannya ke orang-orang (dengan Kogoro Mouri sebagai media), karena gak semua orang yang percaya sama anak kecil. Tapi yang lebih jenius sudah pasti Aoyama Gosho, si mangaka Detective Conan. Saya sempat curiga si Gosho ini pernah gak sih bunuh orang, soalnya trik-trik pembunuhannya gak gampang ketebak. Dan yang sudah pasti yang Maha Jenius adalah Allah SWT yang menciptakan Aoyama Gosho beserta otak cemerlang yang diberkahi padanya. Sayang, Aoyama gak Islam..

Nahhhhhh.... kalau One Piece, kalau ada kata-kata lain di atas KEREN, AWESOME, WAW SUPER BAGUS, AAAAKKK GILA SUMPAH KEREN BEUT P3Rc4y4 d3H 4M4 54Y4!!, pasti udah saya sebut. One Piece, selain alur cerita yang gak terduga, Eiichiro Oda juga menyajikan dialog yang bagus, inspiratif, dan lucu, segar, asik dalam komiknya tersebut. Imajinasinya sumpah, saya kagum sama Eiichiro Oda. Terimakasih lagi kepada tuhan saya Allah SWT yang telah menciptakan Eiichiro Oda serta keberkahan otak kaya imajinasinya. 
One Piece bercerita tentang sekelompok remaja tanggung berlayar bersama mengarungi samudera, dari pulau ke pulau untuk mendapatkan harta karun One Piece. Yah intinya tentang bajak laut. Banyak hal positif yang bisa diambil dari komik ini. Ketika ada sebagian orang yang bilang kalau komik itu isinya tentang anak-anak doang, dan beranggapan kalau orang yang suka baca komik adalah orang yang kekanak-kanakan (terus menurut loh kalo guwweh udah dewasa guwweh harus baca majalah playboy, gituh?), maka saya menyarankan, bacalah One Piece sebelum ngejudge! Di sana elo-elo (ceritanya mendadak jadi anak gehol) bakal nemuin kisah persahabatan yang mengharukan, nilai-nilai kehidupan, arti kesetiaan, kekuatan, pantang menyerah, tenggang rasa, dan semua hal yang elo-elo temuin dalam buku PPKn SD lo ada di sini. Bahkan sempat terbersit di benak guweh gimana kalau buku PPKn yang tokohnya cuma si Budi, Ani, Musa, Ikhsan dan Andi, diganti sama komik ini. Di majalah dewasa elo-elo ada gak? Paling banter juga tentang kisah kehidupan titit seseorang dengan seorangnya lagi. 
Nah, dimulai dari postingan ini, saya berniat untuk membuat postingan-postingan lanjutan yang membahas tentang semua kru Straw hat Pirates yang saya sukai.
BANZAI!!

Minggu, 20 Januari 2013

We Need to Talk About R.W

Pertama-tama saya ingin meminta maaf kepada orang-orang yang telah saya lukai secara langsung maupun tidak langsung. Kedua, judul ini terinspirasi oleh judul movie yang baru saja saya tonton, We Need to Talk About Kevin. Erza Miller sungguh tampan. 



Pernahkah kamu mengkloning dirimu sendiri di dunia maya? Saya pernah. Di situs jejaring sosial facebook, saya membuat sebuah akun palsu. Di akun tersebut saya memerankan seorang tokoh cowok yang saya beri nama Regi Willian. Tidak penting kenapa saya memilih nama itu karena gak penting juga, yang penting adalah mengapa saya membuat akun palsu tersebut. Bila anda mengharapkan suatu ketenangan serta kedamaian diri ketika membaca tulisan ini percayalah saya tidak pernah menjanjikannya lantas pecahkan saja monitornya bila kesal melanda anda atau mungkin silahkan curi ayam tetangga anda dan siapkan diri anda meregang nyawa karena dihajar masa. Apapun yang anda lakukan ya terserah anda sajalah asal jangan cubit pantat saya, ok! 
Saya membuat image Regi Willian sebagai seorang yang to the point, jujur (dalam artian, walaupun kejujurannya itu akan menyakitkan bagi orang lain dan cenderung membuat orang benci), dan blak-blakan, baik dalam komentar atau status di akun tersebut. Di akun tersebut saya meng add beberapa orang yang sifatnya tidak saya sukai dalam kehidupan nyata. Dan di akun itulah, saya menyerang orang-orang tersebut melalui tanggapan-tanggapan terhadap apapun yang mereka tulis. Sebuah tanggapan jujur -yang tanpa babibu langsung ke permasalahan, tanpa ada muqadimah dulu agar pendapat tersebut tidak terlalu menyakitkan. saya analogikan seperti jatuhnya sebuah batu ke lantai. bukan seperti pesawat yang akan mendarat- dan memang sebuah tanggapan yang muncul murni dari otak saya. Di akun tersebut, saya bebas mengomentari apapun, dengan apapun yang ingin saya katakan. Di akun tersebut, tak ada seorang pun yang membuat saya ragu untuk berkata jujur tanpa takut menyakiti hati orang tersebut. Selagi saya bersembunyi di balik nama Regi Willian, saya merasa aman. 
Selang beberapa bulan akun tersebut beraktifitas, semakin banyaklah orang yang mulai kesal dengan tokoh Regi Willian. Banyak yang memblokir akun tersebut, mengacuhkan setiap komen yang saya tuliskan, atau yang paling asyik menurut saya, beradu argumen dengan orang-orang tersebut. Sungguh, ketika beradu argumen di dunia nyata saya lebih memperhatikan kata-kata saya apakah orang tersebut akan tersinggung atau tidak dengan pendapat saya, apakah pendapat saya terlalu dangkal atau tidak, nyambung atau tidak, di akun ini saya lebih liar, cuek, dan apa adanya. Gak peduli apa kata orang.
Saya menikmati setiap momen dimana saya bisa bertindak bebas mengeluarkan apa isi pikiran saya kepada orang-orang, tanpa khawatir terhadap perasaan orang tersebut. Ada sebuah perasaan lega dan puas ketika saya berhasil jujur, dan bahkan membuat orang tersebut kalah (bahkan kesal) dalam adu argumen. Memang, saya akui, kegiatan ini sama sekali tidak sehat, tapi saya menikmatinya! Saya tidak peduli bagaimana perasaan orang mendengar tanggapan-tanggapan saya. Saya menikmati menjadi dalang dari Regi Willian. Seperti memainkan boneka tali, bisa diatur dan digerakkan sesuai dengan keinginan kita. Apapun yang kita lakukan, kemarahan akan ditimpakan kepada si boneka, Regi Willian, bukan kepada saya sebagai tokoh di balik semuanya. Kehidupan saya sebagai Regi Willian ditutup rapat-rapat, saya tidak ingin ada seorangpun yang mengetahui hal tersebut.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya ketika Bulan Ramadhan, yang merupakan saat ketika saya dan Dewi, teman dekat saya sedari kecil sering memiliki waktu bersama, mulai dari subuh sampai tarawihan malamnya. di bulan itu kami sering curhat-curhatan, saling jujur tentang masalah satu sama lain (karena di bulan itulah intensitas kami bertemu sangat tinggi karena pada dasarnya kami beda kampus dan punya kesibukan masing-masing walaupun kami berada dalam satu kompleks perumahan). Dan akhirnya, saya menceritakan rahasia terbesar saya kepada teman saya tersebut.
Malu. Itu yang saya rasakan. Saya memang jujur berkata kepada orang lain di akun tersebut. Tapi di lain sisi, saya menyadari satu hal, selama ini saya tidak jujur kepada diri saya sendiri. Mengapa harus menjadi orang lain dulu untuk jujur? Mengapa harus berpura-pura dan menipu diri sendiri di kehidupan nyata? Mengapa harus menelan bulat-bulat pendapat yang menurut kita benar demi menjaga perasaan orang lain? Mengapa saya begitu bodohnya membiarkan diri saya sendiri tertekan oleh pendapat-pendapat yang tidak bisa saya keluarkan hanya demi menghargai perasaan orang lain? Apakah saya sudah termasuk si Sampah yang ada di postingan saya kemaren? Silahkan jawab. Atau bisa juga gunakan bantuan phone a friend, ask the audience, dan fifty fifty. Atau kirim sms sekarang juga dengan format ketik eji (spasi) jawaban kirim ke 3288 sekarang juga, siapa tau bisa dapat bingkisan bagi siapapun yang mengatasnamakan dirinya hamba Allah. Maaf, bila anda hendak mengirimkan bom waktu, silahkan kirimkan ke alamat yang tertera di bawah ini.. *nunjuk ke bawah*



(Jl. *********** No. *******)

Dan begitulah, akun tersebut akhirnya saya hapus. Mungkin itulah masa labil saya yang mana akan saya kenang untuk kemudian ditertawakan dan diambil hikmahnya serta dijadikan pengalaman hidup. Dan nama Regi Willian sendiri adalah sebuah kekeliruan yang mana ketika seharusnya huruf "N" pada Willian adalah huruf "M" dikarenakan saya ingin menciptakan akun ajang balas dendam (atau kepribadian yang lepas kontrol karena banyak kejujuran yang harus dipendam di kehidupan nyata yang disebabkan ketidakmampuan untuk mengungkapkan sesuatu secara apa adanya) tersebut agak bernuansa kebarat-baratan dengan nama William, tapi apa daya jari lentik kekar berotot ini pun juga tak luput dari kekhilafan pada saat pembuatan akun. 

Kamis, 17 Januari 2013

Movie Characters I Like but Not to Date

Saya suka mereka karena mereka GILA, dan bikin saya ketagihan untuk ketawa liatin tingkah polah mereka yang jauh dari welas asih dan kenormalan manusia rata-rata.

1. Alan Garner (Hangover)



astaga si gendut yang jenius saking jeniusnya sampai gak normal. saya suka karakter Zach Galifianakis di film ini, kenapa ketika ada Bradley Cooper sangat tampan saya malah lebih napsu melirik ke bocah berjanggut gendut ini, hal tersebut sampai sekarang menjadi misteri ilahi. mungkin karena dia berbeda dari yang lain atau gaya bicaranya dan kata-katanya yang diluar dugaan atau malah polos cenderung ke vulgar. entahlah. 





2. Leslie Chow (Hangover)



ini juga Mr.Chow, om om mafia cina mesum yang juga sama gilanya dengan Alan Garner. Tapi sungguh tak disangka tak dinyana ternyata Ken Jeong yang memerankan Leslie Chow ini adalah seorang dokter di Amerika. *facepalm*














apalagi kalau mereka berdua pas satu scene bahahahaha ternyata ada ya kombinasi yang kayak gini. bocah idiot + om-om mesum =


Leslie Chow menikmati keidiotan Alan Garner :D



ini adegan Hangover 2, ketika semua orang cemas memikirkan Teddy yang hilang, mereka berdua malah BERNYANYI!! dan MERDU pemirsah.

di Hangover 1, mereka juga punya percakapan paling idiot menurut saya :D :
Mr. Chow: You gonna fuck on me?
Alan Garner: Nobody's gonna fuck on you! I'm on your side! I hate Godzilla! I hate him too! I hate him! He destroys cities! *Please*! This isn't your fault. I'll get you some pants. 
wahahahaha ini adegan ketika Alan ketakutan diserang Mr.Chow telanjang :D

3. Bobby Pellit (Horrible Bosses)
kalau yang ini tokohnya antagonis dan mengesalkan. tapi saya suka akting Collin Farrell di sini. berhasil memerankan anak bos yang manja yang suka senang-senang, ngedrugs, seks bebas, dan yang paling saya suka pas adegan dia ngacak-ngacak manajemen perusahaan, memecat orang sembarangan, dan cara-cara bodoh dia dalam mengambil keputusan di perusahaan yang menguntungkan dirinya sendiri :D
ini adegan dia berdua Kurt Buckman, bawahannya:

Bobby Pellitt: You know what, I don't hear you giving... dickskin any shit.
Kurt Buckman: Dickskin? Nice.
Bobby Pellitt: Kiss ass.
Jack Pellit: Come on, come on.
Bobby Pellitt: Yeah, go on, in you go. Go on Gay boy!
Kurt Buckman: I'm not gay!
Bobby Pellitt: Please. I've seen gay boys. You're one of them.
Kurt Buckman: Yeah, where'd you see them.
Bobby Pellitt: In your house! Get in! I'm a green belt, motherfucker! 


ketiga tokoh di atas persamaannya adalah, kata-kata lawakan mereka sangat segar dan lebih berbobot dan gak garing. di sela-sela lawakannya itu ada "isinya" gak cuma ngelawak doang. memang asli bikin ketawa ngakak. beda kalo liat pelawak dari Indonesia yang lawakannya cuma dorong-dorongin orang sampai terjatuh atau tiba-tiba menumpahkan bedak atau tepung ke kepala orang, emangnya dimana letak kelucuannya? 
mereka sangat berhasil memerankan tokoh-tokoh di film tersebut. salut buat mereka :D 

The Perks of Being a Wallflower

Definisi Wallflower dari Wikipedia :  a slang term used to describe shy or unpopular individuals who do not socialize or participate in activities at social events. It is most often used to describe someone who stays close to a wall and out of the main area of social activity.




Di awal film ini tiba-tiba saya dicurhati oleh Charlie tentang pengalaman masa lalunya. Menjadi seorang nerd sama sekali bukan keinginan Charlie, itu bisa saya liat dari usaha Charlie mendekati Sam dan Patrick, yang ternyata juga sangat welcome padanya. Dan dari usahanya itulah, Charlie sedikit demi sedikit memberikan kesempatan untuk dirinya sendiri keluar perlahan dari dunianya yang introvert.
Ketika melihat film ini saya merasa bersyukur tidak menjadi introvert di luar negeri. haha.. untung hanya di Indonesia, karena di luar negeri, seorang nerd selalu menjadi sasaran bullying. Kalau di Indonesia mah, orang introvert dibilang sombong karena jarang ngumpul bersama orang-orang, hahahaha.. levelnya jauh lebih tinggi dari yang di luar negeri :DMelihat kehidupan Charlie saya seperti melihat kehidupan saya sendiri, mulai dari sifatnya, sampai ke trauma masa kecilnya. Saya juga mengiyakan setiap plot dimana Charlie selalu membiarkan orang bahagia tanpa mengacuhkan perasaan pribadinya. Saya juga cenderung hanya memperhatikan dan membiarkan orang lain melakukan apa-apa saja yang mereka ingin lakukan, walaupun saya tidak setuju mereka melakukan itu. Alasannya sederhana saja, saya tidak ingin mereka meninggalkan saya hanya karena saya tidak sependapat dengan mereka. Saya selalu takut disisihkan. Takut ditinggal sendiri oleh orang-orang yang telah berhasil saya dekati.Di film itu saya juga suka sama tokoh Patrick. Siapa sangka dibalik keceriaannya Patrick memiliki kehidupan homoseksual dengan cowok populer di sekolah. Hal tersebut menjadi beban baginya karena harus selalu menyembunyikan kisah terlarangnya, belum lagi hal tersebut adalah skandal besar bagi Brad, mengingat dirinya adalah cowok keren atlit sekolahan yang selalu disegani orang-orang. Awalnya saya menduga-duga Patrick ini tokoh antagonis dalam cerita karena yang memainkannya adalah Ezra Miller, seorang anak imbisil menyebalkan dalam film We Need to Talk About Kevin yang belum lama saya tonton. Haha saya sangat suka aktingnya dalam film itu. Di film The Perks of Being a Wallflower ini juga, he is my new idol!
Tak peduli apakah kamu introvert atau tidak, punya teman itu adalah sebuah kebutuhan. karena saat kamu berada di antara teman-teman, "I can see it, this one moment when you know you're not a sad story. You are alive!" ujar Charlie. Dan lagi-lagi saya ngangguk-ngangguk mengiyakan.

*oh iya, sebelumnya saya gak nyadar, ternyata film ini settingnya tahun 90an :)*Ketika menulis ini sejenak saya terpana melihat orang yang saya panggil Papa tiba-tiba mencampurkan nasi ke kolak ubi yang beliau makan. "Lamak, ji.. Cubolah..," ujarnya sambil menyuap makanan yang tiba-tiba berubah menjadi nasi sup kolak.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails